Monday, December 17, 2012

For My Self in the Future

Hi you, who ever read these shits I wrote. I just realized that by any chances, I'm the only one reading this blog :) It doesnt matter anyway, my writing so far is also act as reminder for my very own. Crazy, but I like to read my own stories. Memories, too sweet to be forgotten. Or it just my brain that have memory problem, so I feel like I need to write every single damn thing.

So from now on, I dedicate this blog for my future self. Happy reading Gadang :D

Anyway, its been months (or near a year??) since I wrote something. Many things happened. Sad and joy just came back and forth. Moved from Jakarta, meet new friends, my beloved Dad passed away, living with my Mom, and the recent, my trip to Europe for the second time. So many things to be posted, yet I just didn't have time and..... INTERNET CONNECTION!

No worries, I still make some notes, it is just not published yet. They're still in pieces as text memo, word doc, notepad files. Not in details of course, cause I write when I just feel like it. Hopefully in the following days I will publish them, now I have a little bit time and connection.

So stay tune, be safe, don't stop dreaming (now it sounds like a typical motivation blog mixed with AIDS advertising)...

Wednesday, December 21, 2011

Tak Pernah Ada Kata Terlambat

Tak pernah ada kata terlambat untuk menjadi apapun yang kita inginkan. Ada orang berpendapat bahwa usia 62 tahun adalah usia yang sangat telat untuk mencapai sebuah cita-cita.

Kita tak perlu mencapai usia 62 tahun untuk percaya bahwa usia ini sangat telat untuk meraih sebuah mimpi.

Pada kenyataannya, ada pemuda yang baru berusia 26 tahun ketika perasaan terlambat itu hingap. Suatu saat pemuda tersebut diajak temannya untuk masuk universitas. “Tapi aku terlalu tua” dalihnya. “Setiap orang LULUS ketika mereka berusia 22 tahun, sementara aku sudah berusia 26 dan belum memulai apapun”

Lalu temannya berkata, “Dalam empat tahun ke depan, kamu akan empat tahun lebih tua baik kamu kuliah atau tidak. Manakah yang kau pilih, empat tahun lebih tua dengan gelar, atau empat tahun lebih tua tanpa gelar?”

Kata-kata tersebut mengubah pandangan si pemuda. Ia tiba-tiba menyadari bahwa ia tak pernah terlalu tua untuk meraih mimpinya.

Jadi, ia mulai kuliah. Setelah memompa semangatnya dan menyingkat masa studinya menjadi tiga tahun, ia berhasil meraih gelar yang ia idamkan, lalu memutuskan untuk melanjutkannya hingga jenjang yang lebih tinggi.

Lihatlah, tak ada kata terlambat kan? Kecuali kita tidak memulai apapun. Benarkah bahwa kita tak pernah terlalu tua untuk memulai karir baru atau membuat perubahan dramatis dalam kehidupan kita?

Bagaimana jika kita berusia 72 atau bahkan 82 tahun? Apakah seusia itu kita terlambat untuk mempelajari bahasa baru? Ah, tidak juga.

Dua ratus tahun lalu negarawan Roma, Cato, mempelajari bahasa Yunani pada usia 80 tahun.

Bisakah kita lebih kreatif di usia itu? Bagaimana dengan Goethe? Mahakaryanya, ‘Faust’ belum sempurna hingga ia berusia 80 tahun. Dan Michelangelo berusia 71 tahuh ketika ia melukis Kapel Sistine.

Butuh contoh lebih banyak?

Luigi Cornaro, seorang terpelajar dari Venesia, mulai menulis geriatrik pada usia 83 tahun. Risalah klasiknya ‘The Joys of Old Age’ ditulis pada tahun 1562 ketika ia berusia 95 tahun!

Di era modern, seorang filosof besar, ahli matematik, dan pecinta perdamaian, Bertrand Russell, berpartisipasi dan ditahan dalam sebuah demonstrasi anti nuklir ketika ia berusia 89 tahun.

Dan tentu saja kita tak bisa melupakan Nenek Moses, yang mulai melukis di usia 80. Tahukan anda bahwa sekitar 25% lukisannya yaitu sebanyak 1,500 lukisan dibuatnya setelah ia berusia 100 tahun?

Kemudian ada Henry Little, seorang Presiden Direktur dari The Institution for Savings di Newburyport, Massachusetts, memutuskan untunk pensiun sehingga orang yang lebih muda bisa mengambil alih. Tuan Little pensiun ketika ia berusia 102 tahun!

Orang lebih muda yang ia maksud ternyata berusia 83 tahun. Sedikit Pelajaran Apa yang bisa kita pelajari dari contoh-contoh di atas?

Mereka semua sangat berhasrat tinggi dalam melakukan apa yang meraka kerjakan. Hasrat atau passion adalah sumber energi dan membuat seseorang tetap awet muda, sebagaimana yang ditulis Benjamin Franklin, “Mereka dengan cinta mendalam tak pernah tua, mungkin saja mereka meninggal karena usia tua, tapi sesungguhnya mereka mati muda.”

Mereka juga menyadari, bahwa lebih baik menjadi 70 tahun lebih muda daripada berusia 40 tahun, sehingga mereka tidak membiarkan usia menghambat mereka untuk mengejar mimpi. Mereka memahami bahwa tak ada kata terlambat untuk mulai mengerjakan sesuatu, dan saat ini lah waktu untuk bertindak.

Tidak seperti King Richard II, mereka tidak pernah berkeluh kesah, “Aku menyia-nyiakan waktu, dan sekarang waktu lah yang menyia-nyiakan aku”

Pelajaran lain yaitu ketika peluang muncul, mereka terjun ke dalamnya. Memang, pasti ada resiko di dalamnya, tapi mengapa kita takut akan kehidupan? Kematian, mungkin, tapi tidak dengan kehidupan.

Rita Coolidge menyadari pentingnya hal ini ketika ia berkata, “Terlalu sering peluang datang mengetuk, tapi saat kita melepas rantai, melepas gembok, membuka kunci dan mematikan alarm pencuri, saat itu sudah terlambat.”

Satu hal, bahwa obat mujarab untuk tetap awet muda adalah pengalaman dan pengetahuan baru yang kita dapat setiap hari.

Rupanya Henry Ford merasakan hal serupa, ketika ia berkata, “Siapapun yang berhenti belajar adalah kaum tua, tak peduli terjadi di usia 20 atau 80. Siapapun yang tetap belajar tidak cuma awet muda tapi tetap bernilai, tanpa memperhatikan kapasitas fisiknya.”

Pada akhirnya, ada pepatah Arab yang patut dipertimbangkan, “Ketika kau lihat orang tua yang ramah tamah, berwatak halus, mantap, berisi, dan mempunyai selera humor yang baik, yakinlah bahwa kemudaan, kemurah hatian, dan kesabaranlah yang mereka miliki. Pada akhirnya mereka tidak meratapi masa lalu, juga tidak takut pada masa depan; mereka seperti waktu malam di ujung hari yang menyenangkan.

+++++

Artikel yang sangat menarik, ntah tulisan siapa, sayanag sekali gw ga tau. Sangat setuju SEKALI (udah penalti ini kalo di pelajaran Bahasa Indonesia). Umur bukanlah batas untuk terus berkembang. Tanpa perkembangan, puas dengan keadaan, justru membuat kehidupan terasa hambar, lama2 menjadi hampa. Stuck is suck.

Berarti ga salah ya gw, target umur 30 udah jadi shredder, hahahaha... (shredder itu kalo kata wiki: Shred guitar or shredding is lead electric guitar playing that relies heavily on fast guitar solos :p)

\m/

NOTE: Foto diambil di St. James Park (kalo ga salah), London. Menarik melihat minat baca orang sana yang demikian kentalnya, tanpa pandang usia.

Tuesday, August 2, 2011

London, Exciting and Exhausting

Skadoosh! Just got back from London yesterday. Hehehe, a bit lucky sebenarnya, tiba2 dapat training dari kantor seminggu di sana. Wow! Ini mungkin yg namanya mimpi jadi kenyataan, karena London masuk ke dalam list mimpi gw, yaitu salah satu dari kota2 yg ingin gw kunjungi di seluruh dunia (berarti sisanya akan menyusul, amiiin). Dan kalo dipikir2 lagi, sebenarnya ini jg sedikit mewujudkan goal gw tahun ini, yakni mencicipi udara Eropa, wkwkwkwkw... Emang bener kayanya, kata beberapa motivator, kalo kita ingin sesuatu hal, make a list, write it down as a start. Voila, terwujud dgn sendirinya (dgn campur tangan Allah tentunya).

Dengan perjalanan yg cukup lama, sekitar 12 jam lebih, Jakarta-London sebenernya ternyata tidak sejauh itu :p Tentu saja tergantung penerbangan yg lo pilih. Kalo berangkat dgn modal kantor, the flight is fun. Dgn airbus 380 dari salah satu airlines international, selama di penerbangan ada tayangan TV di setiap kursi penumpang. Dijamin ga boring, soalnya ada banyak pilihan film2 baru, musik keren, dan game2 yg lumayan (ya tau diri dikit lah, masa ngarepin game sekelas Uncharted ada di optionnya :D). Satu hal yg gw pelajari dalam trip kali ini, long trip need books. Ya, buku utk dibaca. Bener2 membantu kala lo dirundung bosan, ntah bosan selama penerbangan atau saat menunggu penerbangan. Gw terpaksa beli novel Harry Potter and The Deathly Hallows gara2 gada bacaan pas penerbangan balik. Untungnya dari semua novel HP, emang seri terakhir ini yg belum pernah gw baca bukunya, so ga rugi2 amat lah beli di sana.

London, like the other big cities in the world, punya jaringan sarana transportasi yg sangat keren. Pernah naik MRT di Singapore? Di London lebih keren dan lebih integrated. Namanya Underground, atau kerennya disebut Tube. Kalo lo bisa baca peta, di jamin ga akan nyasar kemana2 selama lo nemu yg namanya Tube station. Ada satu lemahnya naik Tube, lo ga bisa liat suasana kota, soalnya nih kereta jalan di bawah tanah. Kalo mau liat view, paling enak naik bus double decker khas London. Harganya lebih murah sedikit dari Tube, tapi view yg lo dapat lebih asoy. Utk naik 2 sarana transport ini lo cukup punya satu kartu, Oyster. Sistemnya kaya beli voucher hape aja, top up atau isi ulang kalo habis. Dan tarif perjalanan dgn make Oyster lebih murah daripada lo beli tiket satuan di loket/ticket atm.

Mahal. Itu kesan yg gw sering baca di review internet ttg London. Iya, emang kalo dikurskan ke kurs lokal, emang jatuhnya mahal. Tapi bagi gw, selama ini, dalam beberapa kali gw mengalami perjalanan ke luar negeri, mahal atau murah itu menjadi relatif, sebab pola pikir gw ttg uang jg berubah/bergeser mengikuti pecahan uang yg berlaku. Misal, sekali makan 5 pound, kalo dikursin ke rupiah, sekitar 60rb, itu itungannya mahal. Tapi karena harga2 makanan emang sekitar segitu, ya terasa biasa aja sebenarnya. Dan 5 pound itu adalah makanan enak loh ya, bukan yg asal masak doang. Utk masalah wisata pun, di London ada banyak tempat gratisannya malah. National Gallery (di mana lo bisa liat lukisan2 jaman dulu kala, ada lukisannya Leonardo da Vinci, Rembrandt, sampe Van Gogh), National Portrait Gallery (sama sih ama National Gallery, lukisan2 gitu, tapi campur dgn foto2 portrait modern), British Museum (kalo mau ngeliat peninggalan Mesir, Syria, Yunani, dkk. Ada muminya Cleopatra yg asli di sini) dan Museum of London adalah tempat2 yg lo bisa masuki secara gratis, tis. Apalagi kalo cuman foto2 Big Ben, Buckingham Palace, Westminster Abbey, St Paul's Church, Parliament Building, ya elah, itu gratis banget :) Oh iya, di St Paul kalo lo dateng pas sore hari (hari minggu), bisa numpang denger symphony2 klasik dari organ khas gereja, mantap bgt.

Ada jg beberapa spot wisata yg sedikit perlu keluar uang buat dinikmati. Misal London Eye, lumayan jg ini bayarnya, tapi sepadan lah dgn pengalaman yg lo dapet. Meskipun sebenernya cuman naik Bianglala raksasa doang, tapi view dari atas utk seluruh penjuru London itu priceless. Madame Tussaud jg perlu bayar, tapi kapan lagi lo bisa dempet2an ama Lady Gaga atau Robert Pattinson (meski cuman patungnya doang :D). Intinya, uang yg lo keluarin itu sebenernya sepadan dgn pengalaman lo dapat, dan cerita2 yg akan lo kenang dan bisa lo bagi2 ke orang lain.

Kebetulan saat gw ke sana kemaren bertepatan dgn masa libur orang2 Eropa, summer. So, bisa ditebak, rame dimana2. Utk penggemar gadis bule seperti gw, waw, ini ibarat ditraktir es krim sampe kembung. Gadis2 cantik berseliweran dimana2, dari yg dandanan simpel casual, sampe yg modis abis jg ada. Kalo dah begini, wajib nongkrong di Picadilly Circus atau ngga di Trafalgar Square, pusat keramaian London :D, dimana kita jg bisa nonton banyak street perfomance yg keren2 (serius gw, keren2). Apalagi kalo ke Shaftesbury Avenue pas malam hari, bueeeeh, tumpah itu orang2 modis nan cantik berseliweran dimana2, soalnya disitu salah satu spot hiburan malam, kaya club, restoran berkelas, dan teater2. Yg cantik itu rata2 aksennya aneh alias dari luar negara berbahasa Inggris. Apa ini berarti gw linguist fetish? wkwkwkwk...

Ngomong2 soal teater, kata orang kalo ke London itu jgn sampe ngelewatin yg namanya pertunjukan teater khas London. Mungkin sama kali dgn ketenaran Broadway di New York, atau malah jgn2 di London ini asal muasalnya. Yg jelas karena gw ga terlalu mudeng ama teater2 musikal jadi gw pilih teater komedi aja. The 39 Steps, adalah komedi yg gw pilih karena reviewnya bagus, dan lokasi teaternya persis di daerah Picadilly Circus. Benar2 memukau! Pertunjukan dgn 4 orang pemain, namun dgn 139 karakter (kata brosurnya, gw ga ngitungin). Semuanya perfect, dari akting, lighting, penggunaan properti sampai kesan komedinya bener2 cerdas. Kalo dah begini, jd malu sendiri ngeliat acara komedi lokal, menyedihkan. Anyway, kalo mau beli tiket nonton teater2 kaya gini, jgn beli online, beli aja di konter2 tiket diskonan yg ada dimana2. Yg recommended sih katanya TKTS di Leicester Square, tapi karena pas gw kesana dah tutup, jadi gw beli di tempat laen di sekitaran situ jg. Harganya bisa sampe separonya loh. Ga rugi lah pokoknya, one of the best show I've ever watched.

Sebagai muslim, hal yg paling ribet pas bertandang ke negara non mayoritas muslim adalah mencari makan. Dari awal gw dah ribet sendiri searching lokasi2 tempat2 makan yg halal2, yg gw kaget ternyata di London cukup banyak. Tapi realnya di lapangan, ga seribet itu. Kita selalu lupa bahwa ada option ikan, seafood, dan salad. Tesco atau Tesco Express ada dimana2. Ini ibaratnya Indomaret lah kalo di Indonesia. Disitu lo bisa beli sandwich tuna/salmon, salad2 yg yummy, buah2 potong segar yg dah dikotakin, atau sushi. Ga perlu ribet nyari daging halal. Pret, salah satu tempat makan cepat saji yg terkenal di London, lebih gila lagi. Hampir di setiap sudut kota ada. Pret ini emang "warung" andalan London. Sama kaya di Tesco, tinggal pilih sandwich, salad, buah, sushi, sup sampe dessert kue2 coklat yg enak BANGET. Kalo dah kangen rasa daging ama nasi (ini yg katro banget Indonesianya :D), baru lari ke resto halal. Atau daripada repot dan mahal, bisa cari Wox In A Box, atau Chicken Wox, yg nyediain chinese food gitu tapi halal. Gw jg sempet nyicip resto Rasa Sayang di Oxford Street yg jg halal (punyanya Malaysia). Sayangnya utk masalah rasa, gw lebih milih Tesco atau Pret aja. Oh iya, cobain jg Fish and Chips khas Inggris, yg bisa lo dapetin di resto mana aja, hampir semuanya nyediain kayanya. Oh iya, satu lagi, selama di London breakfast gw selalu di hotel. Dan tipenya adalah British breakfast, yaitu meskipun prasmanan tapi pilihannya cuma aneka roti2 gitu, ham, tomat mentah ama telor rebus. Ham gw skip (masalah kehalalan), sisa roti, tomat ama telur. Begitu terus, every single day. But you know what? I like it, wkwkwkwk... Gw baru tau tomat campur telur rebus ternyata enak jg, asal dikasi merica ama garam :D

Jgn lupa belanja kalo ke London. Pasti ada aja yg nitip ntah gantungan kunci sampe tempelan kulkas. Kalo mau belanja yg hemat, mending pergi ke Camden Market atau Camden Lock. Harganya bisa ditawar, dan pilihannya lebih banyak dan unik2. Dan ga cuman souvenir2 pasaran begitu doang yg ada di sana. Ada berbagai macam kerajinan yg unik2 dan murah2. Kalo doyan belanja pasti seneng deh ke situ. Di sana ternyata jg pusat makanan loh, malah pilihannya internasional dari masakan Spanyol sampe Nigeria. Gw nyoba Phaella (seafood) dari Spanyol. Gw berani pilih soalnya si koki masaknya misah2 kualinya dgn daging2 laen. Kalo mau belanja yg branded ga bakal nemu di Camden, mending ke Oxford Street atau Regent Street aja, disitu pusatnya branded things (dari Zara, Burberry, FCUK, dll). Kalo lagi untung, pas lagi banyak diskon (kaya gw kemaren :D). Kalo ga sempat beli souvenir ke Camden, boleh jg beli di Lambert Souvenir deket Trafalgar Square. Menurut gw setelah survei harganya relatif lebih murah daripada stall2 di pinggir jalan.

Kurang lebih 8 hari gw di London, dan masih saja gw kekurangan waktu utk mengunjungi tempat2 yg sudah gw incer sebelumnya. Gw masih kelewatan Tower Bridge, Tower of London, Tate Modern, Portobello Market, Stamford Bridge (kandangnya Chelsea), Natural History Museum (pgn liat tengkorak dinosaurus), dan beberapa walk guided tour yg murah2. Bukan apa2, cape jg muter2, jalan kaki kesana kesini, karena terlalu banyak spot menarik di setiap sudutnya. Meskipun Tube ada hampir di setiap pusat massa berkumpul, tapi tetap saja, jalan kaki dari satu spot ke spot yg laen itu memakan energi. Gw heran dan takjub, orang di sana atau para Londoner jalannya cepat2. Gw yg orang Asia, yg harusnya logikanya lebih tahan banting dari mereka, malah kepayahan, wkwkwkwk... Satu lagi yg menarik gw perhatiin di London, ada banyak orang2 sepuh yg masih semangat hilir mudik dimana2. Di tube, di pinggir2 jalan, nongkrong di taman, atau sekedar ngopi di cafe. Dan sepuh ini bener2 sepuh, yg jalannya dah pake tongkat, rambut memutih, kulit keriput. Luar biasa, salut bgt gw ama semangat hidupnya. Ntah beda paradigma atau gimana, kayanya kalo di Indonesia, orang2 tua2 gitu dah pada males utk aktif di luar rumah. Pola pikir kita kayanya, kalo pensiun ya udah, selesai, males2an aja di rumah. Tapi tidak begitu yg gw liat di sana. Fascinating...

Huff... Seandainya gw punya waktu lebih banyak... Someday, I'll comeback, either alone, or with someone :)

Link untuk foto2nya :)
Travel