Monday, June 30, 2014

RI-1

Mau tidak mau, akhirnya gw ngerasa perlu utk menulis paling tidak sekelumit apa yg gw pikirkan mengenai Pilpres kali ini. Hanya ada 2 pilihan, Prabowo sang mantan jendral atau Jokowi sang gubernur. Gw ga kenal keduanya (pastinya). Jadi apapun yg gw tulis disini mengenai mereka berdua, murni adalah pendapat pribadi, berdasarkan logika, dan berdasarkan semua hal yg gw dapat dari berbagai sumber.
Mengenai sumber informasi, sulit untuk mencari mana yg benar saat ini. Beberapa media2, jelas menampakkan keberpihakan pada calon2 tertentu, dengan porsi pemberitaan yg tidak berimbang, negative campaign bagi salah satu calon dll. Jadi sangat tidak layak bila informasi2 yg berasal dari media2 itu dijadikan rujukan kebenaran yg mutlak. Semuanya bisa dipelintir. Sejarah kita saja bisa tiba2 berubah (apa malah semakin ga jelas). Apalagi kalo dah kenyang ama berbagai teori konspirasi, pasti dah pada hapal gaya2 begini.
Anggaplah, agar adil, sumber2 informasi tersebut benar semua. Maka jelas, kedua calon bukan lah orang baik seperti yg didengung2kan masing2 timses/pendukungnya. Dua2nya punya sederet kesalahan yg dituduhkan pernah dilakukan di masa lalu. Gw coba mention disini kasus2 utama saja. Untuk Prabowo, kasus yg paling memberatkan, dan paling sering diungkit2, adalah keterlibatannya dalam penculikan aktivis tahun 1998. Akan panjang diskusi mengenai kasus ini. Yg pro akan bilang sudah ada pengadilan, terbukti tidak terlibat, korban dari politik saat itu dll. Yg kontra akan bilang perlu pengadilan HAM, masih ada korban penculikan yg hilang, dalang utama penculikan dll. Kalo mau berimbang, silakan cari versi masing2, versi Prabowo sang penjagal, dan versi Prabowo sang penyelamat situasi. Lihat mana yg lebih masuk akal. Dari sisi Jokowi, gw terus terang ga tau kasus mana yg tergolong berat yg dituduhkan ke Bapak ini. Dibanding kasus Prabowo, kasus Jokowi relatif kurang nampol, sehingga relatif terlihat lebih baik. Korupsi bus Transjakarta? Berbagai proyek mandeg di Jakarta? Ada lagi gitu? Tidak terlalu banyak memang, tapi kalo semua itu benar, maka dia pun tidak sebersih yg kita kira.
Menarik jg utk bicara orang2 di belakang calon2 ini. Masih jelas gw ingat seorang Wimar Witoelar mempost sebuah gambar seorang calon, bersama para pendukung, dgn tagline yg cukup provokatif. Ck3, calon sebelah jg tidak sebersih itu juga kali bro. Di belakang Prabowo, banyak nama tenar dari kalangan dunia “hitam” hehehe. Yg paling nampol menurut gw ya dua orang ini: ARB dengan lumpur lapindo dan Hattarajasa sang cawapres dgn kasus anak emasnya. Sementara di belakang Jokowi, sama saja. Ada Megawati dgn kasus BLBI/Indosat, ada Wiranto dgn kasus Mei 98. Sama aja toh, the rise of evil jg kalo sama2 naik. Ini belum bicara isu2 dukungan negara asing, konglomerat2 jahat di masing2 kubu loh ya. Apalagi kalo dah nyinggung agama, bueh, bisa holy war nih disini (at least di dunia maya).  Timses dan pendukung keduanya jg sama, sama2 ada yg baik dan kreatif, ada jg yg setannya kelewatan. Timses Prabowo terlihat lebih terstruktur, seragam. Sementara Jokowi terkesan berantakan, tidak padu. Bagi sebagian orang, keberantakan pola kampanye dari tim Jokowi ini dinilai sebagai bukti keberagaman. Entahlah, bukan poin penting jg buat gw.
So, dua2nya sama2 punya potensi yg baik, sekaligus yg buruk. Dua2nya sama2 masih menarik utk dipilih. Sekarang pertanyaanya, seiring waktu pencoblosan yg semakin dekat, pilih yg mana? Disini lah penilaian dan standar masing2 orang berbeda.
Banyak orang akhirnya berpaham “pilihlah yg lebih sedikit mudaratnya” atau “pilihlah yg lebih sedikit keburukannya”. Tapi, seperti yg gw tulis di awal tadi, gw ga kenal dan ga pernah berinteraksi langsung dgn kedua orang ini. Dan media sudah gw coret sebagai sumber terpercaya. Maka dari itu, tidak ada yg bisa gw percaya lebih baik selain akal dan intuisi gw sendiri. Satu2nya cara paling sederhana buat gw untuk menilai kepribadian masing2 capres, adalah dengan menonton acara debat capres. Siaran langsung di TV, sehingga kita bisa liat langsung bagaimana cara masing2 calon bersikap terhadap masalah maupun kepada saingannya.
Poin pertama, buat gw presiden itu harus mempunyai wibawa, baik dalam perkataan dan pembawaan. Susah ngomong ‘wibawa’, gada definisi jelasnya. Tapi buat gw, selama debat capres Prabowo lebih berwibawa daripada Jokowi. At least di dalam bayangan gw, seandainya ada dialog antar pemimpin negara di sebuat acara internasional, Prabowo akan nampak lebih cemerlang dibanding Jokowi.
Kemudian gw ga terlalu peduli dengan kejelasan program dan misi2 realistis masing capres: program kartu ini itu, kebocoran anggaran, dll. Seandainya gw yg maju jadi capres, hal2 seperti gitu gampang saja, asal visi sudah jelas dan ada orang2 pintar yg ahli di bidangnya sebagai back up, dimana gw yakin semua ada di belakang masing2 calon. Siapa saja bisa bikin program2 keren. So gw lebih peduli hal2 kecil, yg menurut gw penting dalam penilaian karakter dua orang ini. Contohnya, sampai debat terakhir yg gw tonton, jelas terlihat Jokowi seringkali menampilkan gestur dan mimik menyepelekan, atau bahkan merendahkan lawannya. Ngeye’ kalo kata orang. Definitely not the kind of attitude of a great leader. Dan bahkan sempat terlontar beberapa kali pertanyaan2 yg langsung menyudutkan (bahkan menurut gw jelas menunjuk ke pribadi) kubu Prabowo dan Hatta, baik keluar dari Jokowi sendiri ataupun dari JK. Lagi2, ini bukan attitude pemimpin yg baik. Seandainya mereka yakin menang, dan yakin sudah memiliki performa yg cukup baik, maka tidak perlu sama sekali mengeluarkan pernyataan2 rendah seperti itu.
Jadi sampai dengan tulisan ini dibuat, hanya dengan 2 alasan itu saja gw sudah cukup yakin untuk tidak memilih Jokowi-JK. Tidak lantas berarti Prabowo adalah pilihan yg paling bersih dan tanpa cacat. Hanya saja dari kriteria gw tadi, kubu Prabowo adalah pilihan terbaik yg ada selain kubu Jokowi. Itu saja, sesimpel tidak ada pilihan lain yg lebih baik. Jikalau ada calon ketiga, keempat, dan seterusnya, tentu lain lagi ceritanya. Masalah apakah Prabowo setelah menjadi presiden akan menjadi pemimpin yg adil dan membawa kesejahteraan nantinya, kita liat 5 tahun kedepan. Demikian pula seandainya Jokowi yg menang pada pilpres kali ini, apakah benar semua janji dan programnya akan terlaksana dengan baik, kita tunggu 5 tahun mendatang. Yang jelas, pada akhirnya semua akan terbukti, apakah semua janji akan ditepati ataukah kita kembali menjadi orang bodoh yg tertipu.Mudah2an Allah senantiasa melindungi bangsa ini dari kehancuran. 

Saturday, February 15, 2014

Beralas Kotak Kardus

Ini note lama, bulan Desember 2 tahun lalu. Saat masih terdampar di Paris. Catatan pendek tentang perjuangan sebuah barang yg bernama keimanan.

+++

Pertama kalinya dalam hidup gw, solat dilaksanakan dengan sembunyi2. Bersama2 orang2 asing pula. Ruangan kecil itu, yg mana sebenarnya adalah ruang kerja untuk 2 orang, dipenuhi jamaah kecil yang datang dari 3 negara di 2 benua. 6 orang dengan latar belakang negara, pendidikan dan usia yg berbeda, berbaur menjadi satu, demi sebuah ketaatan kepada penciptanya. 

Miris melihat praktiknya. Kami harus sembunyi2 melaksanakan solat. Solat di lantai ruang kerja, tanpa alas, ada yg bersepatu, dengan posisi shaf yg sangat terbatas. Lampu ruangan dimatikan, dan pintu dikunci dari dalam, demi menghindari kepergok pekerja lain. Miris, karena sebenarnya negara ini negara maju, negara yg mengajarkan kebebasan. Namun ternyata bahkan untuk menjalankan perintah agama saja, seseorang masih harus bersembunyi karena ketidaknyamanan. 

Alhamdulillah, Allah menentukan gw untuk dibimbing seorang muslim dalam training kali ini. Hal yg sudah gw sangka sebenarnya, dari namanya. Seandainya tidak, tentu akan ada perjuangan yg lebih dari pada ini dalam menunaikan kewajiban agama. 

Betapa beruntungnya kita yg hidup di Indonesia. Negara yg katanya mayoritas dihuni oleh muslim. Mau solat dimana aja gada yg larang, bebas sebebasnya. Mau adzan senyaring2nya jg gada yg larang, sapa yg berani :) Bebas seperti itu saja aja masih ada yg meninggalkan, apalagi dalam keadaan susah seperti saudara2 muslim di negeri yg gw kunjungi ini. Salut atas keteguhan hati mereka dalam menjalankan perintah agama. Mudah2an Allah memberikan jalan kemudahan secepatnya kepada mereka. 

Satu hal lain yg memberi kesan mendalam dari kejadian ini yakni saat persaudaraan dan persahabatan dengan mudah dimulai dengan kalimat "Assalam mu'alaikum" :)

Wednesday, January 29, 2014

Brand New Year

Its been a while since the last time I wrote here. Guess what for the last post? Last year resolution. My God,  one year already??? :D So here and back again...

+++

Mungkin hampir setahun dah ga sempat nulis apa2 disini. Harap maklum lah ya, alasannya sih klasik, sibuk. Pret. Ntah kenapa kerjaan datang silih berganti. Sekalinya ada waktu, gw jd dah lupa ada blog ini. Disibukkan dgn hal2 "penting" lainnya, hahahaha. Tapi kalo boleh jujur, memang tidak ada hal2 yg extra ordinary yg bisa gw tulis jg sih. Well, ada sih... tapi bukan porsi publik begini (sok iye lu Dang, macam blog ini dibaca banyak orang aja). 
Anyway...  Ok, gw coba rekap, sekaligus napak tilas kali ya (eh itu sama aja ya artinya wkwkw), setahun belakangan ngapain aja.
Pertama, punya pacar (hihui). Setelah melalui pencarian panjang, wkwkwkw, akhirnya gw ketemu jg seseorang yg "pas". Ibarat puzzle, setiap "lekukan" kita itu pas. Kalo orang nanya, kenapa harus dia, I'd rather say "I don't know, feels like I don't need to find the reason". Banyak hal yg ga bisa gw pahami tentang kehidupan, dan kenapa gw merasa dia adalah "the one" termasuk kedalamnya. Rasa, menurut gw adalah bagian terpisah dari logika, jadi kalo kita memaksa untuk mendefinisikan rasa, ga ketemu jg ujungnya. Kecuali klo gw seorang filsuf, bisa jadi ada definisinya. Well, alhamdulillah I'm not :) Mungkin ini yg namanya kesejiwaan, suatu konsep pasangan yg dulu pernah gw baca. Kesejiwaan muncul bukan karena daya tarik fisik dan materi, tapi karena hal lain yg tidak bisa didefinisikan manusia. Semuanya berjalan dengan sendirinya, seiring waktu berjalan. Bersamanya jg mungkin termasuk alasan kenapa blog ini tidak terjamah, hehehe. Tapi kemudian menjadi alasan jg sekarang kenapa blog ini terjamah kembali. Ternyata dia menggemari tulisan pacarnya (hihihi, jadi malu). 
Kedua, akhirnya gw bisa beli rumah. Setelah mengatung-ngatung menunggu pinjaman kantor yg sangat menggiurkan itu (nol persen sodara2), ternyata kandas akibat persaingan. Alasan ngenesnya, gw kalah persaingan dgn para pegawai yg sudah berkeluarga. Ngok. Yowes, setelah menimbang2 ketersediaan dana, kemungkinan harga properti yg terus meningkat, dan kemungkinan untuk dapat pinjaman kantor yg tipis, gw putuskan bulat utk segera membeli rumah lewat KPR. Proses pencarian ini ternyata lumayan seru. Awalnya tentu gw harus mencari rumah yg ideal dgn kriteria. Mulai dari lokasi, bentuk rumah, lingkungan dan tentu saja... HARGA. Setelah muter2 sana sini ke berbagai perumahan, liat brosur pengembang ini itu, buka website properti sampe bosen, malah akhirnya gw ketemu rumah pilihan gw ga jauh dari kontrakan saat itu. Hanya beda satu blok sodara2. Alhamdulillah semua cocok, lingkungan gw suka, rumah masih bagus (meski second), harga masih nego (dan dapet bonus furnitur), blm lagi si pemilik rumah cukup baik dan kooperatif. So, next step, cari KPR. Dari awal gw sudah berniat, KPR syariah saja. Intinya gw cmn ambil poin ketenangannya saja. Gw rasa ini pilihan yg menenangkan. Ga perlu rasanya gw jelaskan mengenai riba dan hal2 berbahaya mengenai perbankan konvensional, bisa browsing masing2. Intinya cuman satu, hati dan logika gw mengatakan KPR syariah adalah pilihan terbaik saat ini. Jadi, setelah menimbang2 berbagai produk KPR syariah dari berbagai bank yg ada di Balikpapan, gw mutusin buat ambil KPR di sebuah bank syariah (merk ga usah disebut, gw ga dapet bayaran buat iklan :p). Sekedar saran, klo mo pilih produk KPR, jangan terkecoh dengan persentase nilai yg ditawarkan. Minta simulasi real berapa rupiah cicilan perbulan, lalu bandingkan. Jangan lupa minta jg perhitungan biaya2 yg termasuk selama proses, seperti admin, biaya notaris, pajak dll, masukkan dalam perbandingan. Dari situ baru keliatan angka2 yg lebih nyaman untuk dipahami. Singkat cerita, KPR tembus, transaksi lancar dan tabungan utama gw hampir ludes buat bayar DP. Tapi endingnya, gw punya investasi jangka panjang berupa properti. Tidak terlalu besar, namun sesuai dgn kebutuhan gw saat ini. Klo ada yg mo tanya2 tentang seluk beluk prosesnya, bisa japri aja ntar (kalo ada... which is meragukan :D).
Ketiga, I finally start to workout seriously. Klo diinget2, beberapa tahun lalu dah sempet gw singgung2 ya. Apa daya, comfort zone itu mematikan sodara2. Alhamdulillah kemalasan itu akhirnya berhenti beberapa bulan lalu. Tepatnya saat demam OCD melanda negeri ini, hahaha, ya gw korban Dedy Corbuzier. Pada prakteknya, yg gw lakuin adalah kombo intermittent fasting (IF) dan weight lifting. Nanti deh besok2 gw post sedikit detil ttg prosesnya gimana. Intinya, gw heran jg ternyata gw bisa konsisten di jalur ini. Gada rasa malas blas. Yg ada malah semangat dan semangat. Tiada hari tanpa mikirin weight lifting (agak lebay emang, padahal harusnya mending gw pake zikir :D). And pelan2 tapi pasti hasilnya mulai keliatan (dikit tapi nongol, apa coba). Apa? Minta bukti? Ntaaaar, kalo badan dah cukup pede buat masuk body contest baru gw post (kalo PEDE). Sekarang masih cupu, meski dah mendingan dibanding sebelum mulai nge-gym. 

+++

Hmmm.. kayanya cuma tiga poin itu aja gw bisa gw recall dari memori. Gila, ga banyak jg ternyata yg gw lakuin tahun kemaren.
Tanpa mengecilkan momen2 yg terjadi tahun kemaren, gw rasa gw melewatkan banyak hal. Fotografi benar2 sudah terlupakan. FOto2 narsis, atau jepret2 santai sambil jalan2 ga masuk itungan. Yg masuk itungan itu, gw moto dgn niat emang buat moto. Take picture, edit, post. Never done that anymore I guess. Last time was when I travel to Bali with my girlfriend. Thats it. I miss it. Which remind me of the next subject...
Travelling. Sama saja ini. Tidak ada travelling menantang seperti yg biasa gw lakukan sebelumnya. Menjelajah daerah baru, hunting lokasi dan informasi, wisata kuliner. Hanya travelling ke Bali terakhir kemaren saja bersama pacar yg masuk itungan (yeah, with new company, and we visit several new places). Then after that, zero, none, nada. Ya gw sadari, kendalanya adalah di uang. Hahahaha, akhirnya gw jadi korban materialis, dimana uang menjadi halangan. Memang sebenarnya tidak perlu disesali sih, sebab dana memang terbatas, mengingat gw perlu dana besar saat itu utk rumah. Yg gw agak sesalkan adalah ketakutan2 gw utk mendobrak keterbatasan itu. Uang harusnya tidak menjadi masalah, selama gw masih bisa mencari jalan lain alias alternatif utk travelling dgn budget minim. Tapi sayangnya, gw juga sepertinya terjebak dgn zona nyaman, yg ntah gimana hubungannya menimbulkan kecenderungan untuk susah "hidup susah", hahaha. Ngok.
Sekarang gw kembali ke titik kebosanan. Standar ya perputaran hidup gw. Exciting at some point, bored at the rest of it. Rutinitas itu mematikan kawan. Baik dari kerjaan maupun ritme hidup harian (bangun-makan-kerja-pulang-nonton-tidur). Stuck, and I really need refreshment. And yes I know, I know the recipe already. 
So these are my recipes, termasuk sebagai resolusi tahun ini: 
1. Travelling. Target gw masih sama, Tokyo. Most likely there will be another places to visit before that as my girlfriend is also a travel junky, but the main target is the same. Biar ga jauh2 dari target tahun lalu, list tahun ini: Derawan, Belitung atau Manado. Either one of them, or three all together. Optimis!
2. Keep pumping the barbel. Ritmenya masih bagus, konsisten. Target jangka menengah 4 bulan kedepan. Patokannya waktu dulu, soalnya masih agak ragu jg hasil bentukannya ntar jadi gimana. Jangka panjangnya full year workout. Kayanya sih kalo full year 2014, Januari tahun depan dah pede ikut body contest (mimpi dulu boleh lah ya) wkwkwkwk....
3. Married. Ya, ending dari sebuah keseriusan, yg sebenarnya merupakan awal utk perjalanan yg selanjutanya. Merit itu salah satu keputusan berat dan penting dalam hidup. Why suddenly I decided to get married? Well, I found the right girl already, plus I can picture myself growing old and raise a family with her. Nuff said. So, tunggu tanggal mainnya, TBA :D Her presence in my life, hopefully will become my everlasting refreshment (aamiiiin)
4. Menekuni dunia foto kembali. Bagian ini sebenarnya berkaitan erat dengan travelling, namun tidak selalu sih. Bisa2 aja hobi ini jalan tanpa travelling jauh2. Optimis masih ada spot2 tak terjamah di dalam kota, selain itu ada jg street fotografi yg bisa gw ambil nyaris tanpa biaya. Kamera ready, tinggal mental aja yg belum ready :) Target, paling tidak ada 5-10 foto cantik yg publish di forum. 
5. Mencoba berdagang, atau bisnis deh bahasa kerennya. Ini jg pilihan menarik sebagai alternatif rutinitas. Ada beberapa ide yg udah bapuk ditumpuk kelamaan, ga jadi2 direalisasikan. Yg paling logis dan sesuai minat saat ini ada dua, yaitu ini dan itu. Malu ah disebut, nanti aja klo sukses. Intinya yg perlu dikejar saat ini, belajar bidang terkait dan cari relasi secepatnya.
Demikian. Dan seperti yg biasa gw sebut2, gw selalu percaya dengan kekuatan cita2 dan harapan, karena most likely keduanya termasuk bagian dari doa. Kalo ga percaya, liat tulisan2 gw sebelumnya. Hey, dua target gw tahun kemaren tercapai loh, alhamdulillah.
Jadi bismillah, mudah2an tahun ini menarik, menyenangkan, dan penuh berkah.

Wednesday, January 23, 2013

Memulai Tahun Dengan Resolusi: 2013

Setelah gagal menulis resolusi 2012, dengan alasan terlalu excited dan super sibuk dengan kerjaan baru sepanjang tahun (bahkan untuk menulis blog saja susah), maka gw berniat memulai tahun ini dengan menetapkan kembali beberapa target. Karena belajar dari pengalaman, niat itu adalah doa, dan doa itu insya Allah terkabul. You can read about it from my previous posts, started from my 2011 resolution here and go forward, then you should understand what I'm talking about.


Jadi, setelah ditimbang2, beberapa target (sekaligus harapan) untuk tahun ini adalah:

1. Bergitar kembali.
Ya, ini kayanya target yg ga pernah selesai :D, I like this stuff since high school. Setelah pindah ke Balikpapan di awal 2012 demi pekerjaan, bisa dibilang proses serius gw utk ngulik gitar putus. Squier yg barusan gw beli tahun sebelumnya menganggur karena ampli gw jual di Jakarta. Meskipun ada satu gitar akustik yg kualitasnya lumayan, gw tetap merasa serius itu harus dgn gitar elektrik, apalagi utk jenis musik yg ingin gw dalami. So, dalam waktu dekat, beli ampli, dan habisin video2 kursus yg udah di download sejak kapan tau. Target tetap sama: Voodoo Child by Jimi Hendrix.
2. Travelling
Karena Eropa sudah cukup lumayan terwakili dari track record travelling gw (masih meninggalkan Amsterdam dan Praha yg belum terjamah), target travelling tahun ini digeser ke timur. Tokyo (dan mungkin Osaka), adalah target selanjutnya. Gw ngga tau duit darimana, but we'll see what happens. If somehow I cant make it, then Jelajah Indonesia lebih tepat utk dikejar. Ada rencana ke Derawan dalam waktu dekat, so target yg lain adalah Belitung atau Manado.
3. Beli rumah
Ini target realistis, soalnya pinjaman rumah baru keluar dari kantor di tahun ini. Jadi insya Allah dapat rumah yg tepat dan sempurna untuk memulai tahap kehidupan yg baru. Most likely my mom will stay together with me, so it should be realized soon.
4. Punya pacar
Preeeet, mau ga mau emang ini harus masuk list juga. Ngarep sambil manyun sepanjang perjalanan gw di Eropa tahun kemaren dampaknya bisa kronis kalo ga ditindaklanjuti dengan serius, hahahaha. So there you go, you're on the list now, who ever you might be :D

Hup... Bismillah.

Wednesday, January 2, 2013

Paris, My Second Dream

Alhamdulillah...
Itu kata yg paling tepat untuk menggambarkan kondisi gw sekarang. Sudah hampir lebih dari 5 minggu ini gw tinggal di Paris, kota kedua tujuan perjalanan impian gw. Dan lagi2, ini perjalanan 'kebetulan', meski gw yakin tidak ada yg kebetulan, semua sudah direncanakan Allah Yang Maha Kuasa. Kebetulan, karena lagi2 ini perjalanan 'bisnis' kantor, on job training di head quarter perusahaan tempat gw kerja sekarang. Sekarang sudah mau kelar sih, just another one week. So better to start writing everything memorable, for my self in the future :D
Paris, sama mengagumkannya dengan London. Kota yg cantik, dengan segala jenis penghuninya yg tampak indah  (for sure I'm not talking about guys). I always love to travel in this kind of modern and integrated city, makes your traveling easier. Terlalu banyak hal yg bisa dieksplor di sini, bahkan untuk tinggal selama 5 minggu ini saja rasanya masih kurang. Ada banyak museum bagus, tempat2 bersejarah, dan tentunya spot foto yg bagus2. 
Sekarang masih winter di Paris, hal yg membuat gw sedikit sok kerepotan di awal perjalanan, soalnya ga pernah sekalipun ngerasain musim dingin (paling mentok musim duren!). Berbekal jaket seadanya, coat pinjaman dari seorang teman baik (thank Ranjiv), dan kaos kaki serta sarung tangan hasil buruan bersama nyokap di Samarinda, gw rasa sudah cukup saat itu. I was wrong, hahaha. And in the end, I bought couple more things in here. Teorinya sih ga usah pake baju/jaket yg tebal2, kecuali lo ke kutub. Cukup pake layering aja, pake beberapa lapis baju, cukup. Gw cuman pake kaos/kemeja, plus jaket atau coat. Kalo dinginnya agak berat, tambah selapis sweater lagi. Syal jg jangan lupa, biar blend sama Parisan yg lain. Parisian disini hampir semuanya pake syal buat nutuin leher. Atau klo mo hemat, beli jaket yg kerahnya nutupin leher. Ga perlu sampe beli longjohn, bisa dibilang hampir ga kepake. Paling gawat itu sebenernya bagian telapak tangan, sarung tangan kaya gimana jg ga mempan biasanya. Ujung2nya masukin ke saku coat biar dobel hangatnya. Ga ada salju sih disini, dan dinginnya itu jg lama2 biasa aja. Ga sampe bikin masuk angin. Rada percuma jg gw bawa senjata Tolak Angin segambreng, ga keminum sedikit pun sampe saat tulisan ini dibuat. Namun angin disini itu luar biasa, ini yg bisa bikin dingin menusuk tembus sampe ke dalam2. Cukup menantang jg kalo sering2 jalan2 buat eksplor kota. Tapi yaaaa dingin doang, rugi kalo mendem di kamar aja. 
Biasanya gw jalan pas weekend, soalnya ya disini office hour ya dipake kerja. Kecuali lagi suntuk berat di hotel, baru biasanya gw jalan ke tengah kota. La Defense, tempat kantor gw berada, ada di pinggir kota sebenarnya. Perlu naik metro dulu untuk ke tengah kota, ke tempat2 menarik berada. To save money, beli sepaket tiket T10 yg isinya 10 tiket, bahasa kerennya disini "carnet", dah aman itu buat jalan2 gw seminggu. Beberapa tempat menarik yg gw rekomendasikan:
1. La Defense, to see Grand Arche, dan belanja2 di Les Quatre Temps
2. Arc du Triomphe, kalo punya uang lebih dan waktu lumayan naik ke atas bangunan ini
3. Champ Elysses, just walk along this street. Cuci mata, belanja (kalo mampu), dan people watching (this is my spot :D). Kalo mau yg branded banget (Gucci, LV, dll) bukan disini, tapi di Avenue de Montagne, which is deket jg sih, di salah satu persimpangannya.
4. Concorde, buat liat obelisk asli dari Mesir. Nyolong kayanya ini orang Perancis :D
5. Musee du Louvre, art and architecture. The best museum so far. Terlalu banyak masterpiecenya disini. Gw sampe balik 3 kali biar puas. Sangat direkomendasikan ambil audioguide biar lebih ngerti apa yg diliat.
6. Tour Eiffel, jelas lah, perlu alasan apa lagi. Gw jabanin naik tangga sampe ke level dua demi merasakan sensasinya naik tangga di menara yg terkenal itu. Lebih murah daripada naik lift langsung ke atas, dan pengalaman itu priceless :D Better to visit this place from Trocadero metro, viewnya ciamik. Bisa jg sih dari Bir Hakiem metro, kalo mau sambil mampir di jembatan Bir Hakiem yg ada di film Inception itu. Jalan dikit lagi ke selatan bisa ngeliat patung Liberty tanpa harus ke New York (yes, just so know ada 3 patung Liberty di dunia, atau 4 malah ya?)
7. Notre Dame, best church since its permitted to take picture inside, hahaha... Bayar dikit buat naik tangga ke menaranya. Manteb buat foto2 ama Gargoyle2 yg terkenal itu. 
8. Sacre Cour, ini jg gereja keren, cmn agak strict masalah foto2, mgkn gara2 gw kesana pas jadwal ibadah Minggu :p Lokasinya ada di dataran tinggi, so lo bisa liat kota Paris dari ujung ke ujung, panoramic view. This is also where you can get your face painted by local artist (I get one :D). Tepatnya di daerah Montmarte and this is also the heaven for buying knick knacks seperti gantungan kunci, magnet, dll dengan harga yg lebih murah daripada di tengah kota, so make sure you go there.

Masih ada beberapa tempat lagi sebenernya, terutama di bagian utara dan selatan, tapi untuk mewakili pariwisata Paris gw rasa cukup lah delapan list ini. Sisanya itu lebih ke tempat2 untuk people watching, seeing the culture, shopping like local, things like that, yg buat gw lebih menghabiskan waktu dibanding jalan ke pusat2 turis.

Minggu ini petualangan gw di Paris dah kelar. Ada banyak cerita tentu dan pengalaman berharga selama disini, yg agak repot jg kalo mesti diceritakan disini :D So I'll keep those for my own stories to my family and friends. One day I'll come back to this city with my family, insya Allah, aamiin.

Ga afdol rasanya tinggal hampir 2 bulan lebih di Eropa tapi cuman ngerasain Paris doang. So dengan niat gagah berani gw jg menyambangi 2 kota keren lain, Roma dan Barcelona, di sela2 jadwal kerja yg lumayan. Not now, next post :D So stay tuned...

Friday, December 28, 2012

Death Is Just Another Start

19/10/2012

Kematian hanyalah bel yang berbunyi tanda ujian telah selesai. Perjalanan masih berlanjut.
15 September 2012. Saat itulah kematian menyapa gw. Papa, sosok lelaki panutan gw, telah kembali ke Penciptanya. Kematian begitu tenang menghampiri beliau, berbeda dengan masa2 kritis di ICU. Saat kritis, bernapas pun sangatlah susah, sampai2 harus dibantu dengan masker oksigen. Begitu susahnya, sampai2 kadang udara baru bisa terhirup setelah berusaha menghirup kesekian kalinya. Namun saat menjelang kematian, semuanya tampak tenang, setenang suasana subuh kala itu. Begitu pelan, tenang, dan tanpa jejak.
Sepanjang ingatan gw, saat2 seperti ini adalah saat yang gw khawatirkan, yang seringkali muncul menimbulkan pertanyaan, "mampu ga ya gw?". Bukan tidak siap melanjutkan hidup tanpa papa, tapi lebih kepada tidak siap menjalani prosesi kematian itu sendiri. Sebagai muslim, kewajiban keluarga, apalagi anak lelaki, termasuk memandikan, mengafani, mensolatkan, sampai menguburkan jenazah. Selama 28 tahun hidup, belum sekalipun gw bersentuhan dengan hal2 tersebut. 
Anehnya pada saat semua hal tersebut terjadi, tidak ada sedikit pun kekhawatiran tersebut terwujud. Semua berjalan dengan sangat lancar. Semua gw handle dengan baik, mulai dari menemani jenazah papa di ambulans, memandikan, mengafani, mengangkat tandu jenazah, sampai masuk ke liang kubur untuk mengatur posisi jenazah dan mengumandangkan adzan. Alhamdulillah, Allah memberikan kekuatan dan jalan yang baik. 
Satu dari beberapa hal yg gw sadari selama proses ini, ada begitu banyak orang baik di sekitar papa. Selama sakitnya, papa pernah curhat, betapa kecewanya beliau karena merasa ditinggalkan. Kawan dekat dan saudara dekatnya ternyata malah sedikit mengacuhkan dirinya yang sedang sakit. Padahal seingat gw, papa adalah orang yang sangat solider, ringan tangan untuk membantu, terutama kawan2 dekatnya dan keluarganya. Itulah hidup, dimana bukan kita yg mengatur, Allah lah Sang Pengatur, dimana harapan belum tentu menjadi kenyataan. Namun di samping itu, Allah pula yg mendatangkan kawan2 baru, yg sedemikian baik dan perhatiannya kepada keluarga kami. Bantuan datang dari mana2, tanpa kami minta (semoga Allah membalasnya dengan balasan yang lebih baik). Hal itu pula yang semakin menunjukkan bahwa Allah tidak meninggalkan orang2 baik :)
Ada banyak kenangan manis bersama papa sebenarnya, namun hanya dua hal yang masih segar dalam ingatan. Pertama, saat gw, papa dan mama makan malam keluar bersama (sepertinya itu yg terakhir kalinya). Papa ingin sekali makan masakan Padang, secara karena sakitnya, beliau susah sekali untuk menikmati rasa makanan. Akhirnya kami pun pergi ke sebuah rumah makan yg cukup terkenal, dan akhirnya open table. Open table disini dalam arti seluruh masakan disajikan, seperti umumnya yg ditawarkan rumah makan padang. Kenapa berkesan? Karena dalam sakitnya, baru kali tersebut gw lihat papa makan dengan lahapnya, sampai beberapa kali mengambil tambahan lauk. Senang rasanya bisa membuat beliau senang. Momen kedua, lagi2 bersinggungan dengan makanan, saat kami berdua jalan mencari air minum kemasan untuk acara di rumah. Tiba2 beliau memesan rujak di pinggir jalan, ngidam rupanya, hehehe. Dan di sepanjang perjalanan, dia sibuk mendengarkan cerita pedekate gw kepada seorang perempuan (yg ini ga perlu diceritakan lah ya). Hal ini tidak biasa, sebab biasanya gw ga cerita hal2 menyek2 begini ke papa. Menarik melihat reaksinya, saran2nya, selama perjalanan. Lagi, itu sepertinya momen kedekatan terakhir kami berdua. Sudah biasa memang, gw dan papa saling cerita, curhat, menasehati (tentu ini porsinya papa), namun karena itu momen terakhir, maka paling nyantol di ingatan. 
Mama luar biasa tegar, meskipun seringkali orang2 menyangsikannya. But i know my mom more than you do, She's a superwoman. Kesedihan mendalam hanya tampak di saat papa kritis, namun setelah kematian datang, justru ketegaran dan kesabaran yg gw lihat jelas. Sama seperti halnya yg terjadi di diri gw, saat papa kritis setiap saat adalah kesedihan dan rasa kasihan, kasihan kepada papa yg sedang bertarung melawan rasa sakit. Namun setelah kematian datang, yg tersisa adalah kekuatan, kekuatan untuk melanjutkan hidup. Beberapa poin yg sempat papa ingatkan kepada gw sebelum beliau kritis adalah mengenai kejujuran, berbakti kepada mama, dan selalu ingat keluarga. 3 dari sekian hal lain yg memang gw liat papa aplikasikan di dalam hidupnya dengan serius. Insya Allah akan gw jalankan semuanya sebaik2nya. 
Selamat jalan pah...
Sampai bertemu lagi di dunia yang berbeda...
Di dunia tempat segalanya dipertanggungjawabkan...
Di dunia yang lebih nyata.

Thursday, December 27, 2012

Note from March, Part Deux

Another note from March, just blabbering about some shits :D

5/9/2012

Traveling.
Sampai saat ini subjek di atas sering gw tempatkan di bagian “interest” kalo ngisi data pribadi di social network. Agak menipu sebenernya kalo gw bilang gw cinta travelling. Selama ini jalan-jalan menarik yang pernah gw lakukan toh juga karena kerjaan. Atau at least jalan-jalan bareng keluarga dan teman. Tapi memang, gw akui gw sangat menikmati travelling. I can lost for hours wondering some new streets, searching for popular sites, or just sitting in the corner of a park and watching the people and culture.
Mungkin kesenangan berjalan-jalan ini dimulai dari sejak gw kecil. Papa lumayan sering ngajak anak2nya liburan keluar kota, terutama ke pulau Jawa. Hampir semua sarana transportasi saat itu sudah gw coba. Naik pesawat, kapal penumpang, kereta, bus umum, dokar/andong, bahkan naik mobil keliling Jawa jg sudah gw jabanin. Sayangnya keluarga gw itu ga melek dokumentasi, jadi bisa dibilang gw ga punya bukti banyak tentang jejak2 traveling itu.
Dulu sewaktu sekolah, kendala terbesar adalah uang. Namun setelah bekerja, kendala utama adalah waktu. Jatah cuti yang hanya 2 minggu dalam setahun terlalu sedikit. Belum lagi kendala pola pikir. Berat keluar dari zona nyaman jg jadi masalah besar loh. Padahal setelah bekerja tentu dana hanya menjadi masalah kecil, karena paling tidak gw bisa sedikit menabung untuk dana travelling. Makanya, saat masih bekerja di Jakarta, gw sangat menikmati tugas2 keluar. Kemana aja ayo. Nginap dibayar, uang makan ada, apa lagi? Tugas kantor selesai, berarti waktu jalan2 dimulai.
Sekarang traveling sedang menjadi tren. Ntah kapan dimulai, tiba2 semua orang begitu gandrungnya jalan2. Sama seperti tren kamera, gadget, dan menyelam (ya, bahkan menyelam pun sekarang menjadi tren), traveling seolah2 jadi menu wajib bagi siapa saja saat ini. Backpacker, istilah baru untuk para traveler bermodal cekak, dana minim tapi pengen jalan2 JBuku-buku tentang tujuan wisata dan serba-serbinya dijual dimana-mana, dan peminatnya membludak. Ada banyak tipe buku semacam ini, mulai dari detil perjalanan, tempat tujuan wisata, itinerary, sampe bahkan blog atau catatan si traveler pun dibukukan.
Alasan setiap orang melakukan traveling pasti berbeda-beda. Ada yang memang cinta mati ama traveling, pagi siang malam ga jauh pikirannya tentang jadwal pesawat murah, ada yang emang pengen kabur dari kejenuhan hidup, ada juga yang sekedar ingin eksis dan tampil memamerkan kemampuannya traveling kemana-mana. Dan gw rasa jenis terakhir inilah yang jumlahnya paling besar. Coba kita lihat, jenis2 terakhir ini biasanya paling aktif memposting foto2 liburannya di social network. Nah sekarang hitung berapa temen2 kita yang kelakuannya kaya gitu. Banyak jg ya? Ya, gw akui, gw jg termasuk disini J. Sadar atau tidak, manusia memang perlu pengakuan dari sesamanya. Untuk kasus traveling ini, tentu pengakuan dari teman sekitar, “wah keren jg lo dah nyemplung di Wakatobi” atau “anjir, foto lo di Westminster Abbey keren banget bro” atau “man, kapan2 ajak2 gw ya kalo jalan ke Bali lagi”. Semuanya adalah tendensi untuk meminta pengakuan, pujian, bahkan secara ga sadar membuat kita bernilai lebih dari mereka. 
Sayang banget kalo uang yang kita keluarkan demi jalan2 itu, hanya berakhir dengan tujuan “pengakuan”. Lebih2 lagi, sekedar numpang eksis. Traveling can be so much more than that. Membuka wawasan, belajar tentang budaya lain, persahabatan, and the most important for me: trying to understand that we’re not the only human in this world. Bumi Allah ini sangat luas, dan kita bukan satu2nya penghuni yang berhak atas semuanya.  Dunia ini terlalu luas bagi kita untuk menjadi sombong. Banyak hal yang kita tidak tahu, dan banyak hal yang kita tidak mengerti, dan semuanya itu ga akan bisa kita sadari kalo kita hanya berhenti di tempat, tidak bergerak kemana-mana.

PS: out of context from this blast from the past note, saat ini sedang excited dengan kamera baru, Fuji X10,setelah dengan amat sangat menggerutu nenteng D80 kemana-mana selama di Roma, so kamera yg ramping dikit is desperately needed. And also super excited and terified at the same time untuk pergi liburan (lagi) ke Barcelona sabtu ini... maaan..

Note from March

A promised, this is one of my notes on March I guess...


5/2/2012

Well it’s been a long time since I wrote here J. Couple things change. I’m not living in Jakarta anymore, not working in Baker anymore. I’m moving to Balikpapan, working at Total now. Have nice new friends, and, well, let say, new life.
Jakarta terlalu menyesakkan buat gw. Kemacetan, kerasnya pergaulan, stres. Kayanya tiga hal itu yang menjadi faktor utama kenapa gw merasa tidak nyaman dan sangat berniat meninggalkan kota Jakarta. Tentu, ada banyak hal yang indah di Jakarta. For sure, I’m gonna miss those malls, semua gadis super terawat yang berseliweran di dalamnya, teman-teman lama gw, dan berbagai pilihan aktivitas yang beragam dan masa kini. Wajar, Jakarta ibukota negeri ini, semua fasilitas lengkap tersedia. Tapi, toh pada akhirnya semua itu tidak cukup membuat gw betah tinggal disana.
Until this very moment, I still can’t imagine how I’m supposed to live, if I stay in Jakarta. Seandainya gw mampu beli rumah suatu saat nanti, dengan perkiraan kemampuan beli, rumahnya sudah pasti jauh dari tempat beraktivitas. So waktu sudah pasti jadi musuh. Di perjalanan, kemacetan dan seluruh dinamika kehidupan di dalamnya pasti jadi makanan sehari2. Waktu gw mungkin hanya habis di jalan. That’s just too much for living in the so called “kota metropolitan”. Terlalu banyak yang dikorbankan, korban diri sendiri, korban keluarga, mungkin anak menjadi kurang perhatian, apalagi istri (kurang jamahan :D).
Balikpapan adalah salah satu dari sekian jawaban. Kota yang tidak terlalu besar, tapi cukup apik tertata. Silakan mengatakan selamat tinggal kepada kemacetan, karena semacet2nya jalan disini, paling cuma membuat lo telat ke citos 10 menit, asumsi pergi dari simpang cilandak J. Tempat makan enak banyak, mall meski tidak banyak jumlahnya namun cukup lah menurut gw. Cineplex juga ada, film2nya pun juga sangat up to date, ga kalah dengan premier di kota2 besar lain. So that’s it. Alasan-alasan itu aja sudah cukup membuat gw bertahan di Jakarta sampai beberapa saat yang lalu, apalagi hanya untuk bertahan di Balikpapan. Belum lagi faktor keluarga, I can visit my parents even more often now, since its only 2.5 hours from here!
Pada akhirnya, gw salut kepada kawan-kawan yang masih betah dan rela hidup di Jakarta dengan segala kesulitannya. Butuh kesabaran, energi dan ketangguhan ekstra untuk bertahan. Tapi kawan, dari hati yg paling dalam, gw terpaksa mengundang untuk bertanya, is that really worth it? Seandainya kalian juga setuju dengan gw, maka percayalah bumi Allah ini luas, rejeki tinggal dijemput dengan berusaha. Jadi jangan takut untuk berkelana. Kesempatan itu tidak harus selalu ditunggu, tapi juga harus dicari. Mudah2an jalan terbaik selalu diberikan oleh-Nya untuk kita semua.

Monday, December 17, 2012

For My Self in the Future

Hi you, who ever read these shits I wrote. I just realized that by any chances, I'm the only one reading this blog :) It doesnt matter anyway, my writing so far is also act as reminder for my very own. Crazy, but I like to read my own stories. Memories, too sweet to be forgotten. Or it just my brain that have memory problem, so I feel like I need to write every single damn thing.

So from now on, I dedicate this blog for my future self. Happy reading Gadang :D

Anyway, its been months (or near a year??) since I wrote something. Many things happened. Sad and joy just came back and forth. Moved from Jakarta, meet new friends, my beloved Dad passed away, living with my Mom, and the recent, my trip to Europe for the second time. So many things to be posted, yet I just didn't have time and..... INTERNET CONNECTION!

No worries, I still make some notes, it is just not published yet. They're still in pieces as text memo, word doc, notepad files. Not in details of course, cause I write when I just feel like it. Hopefully in the following days I will publish them, now I have a little bit time and connection.

So stay tune, be safe, don't stop dreaming (now it sounds like a typical motivation blog mixed with AIDS advertising)...

Wednesday, December 21, 2011

Tak Pernah Ada Kata Terlambat

Tak pernah ada kata terlambat untuk menjadi apapun yang kita inginkan. Ada orang berpendapat bahwa usia 62 tahun adalah usia yang sangat telat untuk mencapai sebuah cita-cita.

Kita tak perlu mencapai usia 62 tahun untuk percaya bahwa usia ini sangat telat untuk meraih sebuah mimpi.

Pada kenyataannya, ada pemuda yang baru berusia 26 tahun ketika perasaan terlambat itu hingap. Suatu saat pemuda tersebut diajak temannya untuk masuk universitas. “Tapi aku terlalu tua” dalihnya. “Setiap orang LULUS ketika mereka berusia 22 tahun, sementara aku sudah berusia 26 dan belum memulai apapun”

Lalu temannya berkata, “Dalam empat tahun ke depan, kamu akan empat tahun lebih tua baik kamu kuliah atau tidak. Manakah yang kau pilih, empat tahun lebih tua dengan gelar, atau empat tahun lebih tua tanpa gelar?”

Kata-kata tersebut mengubah pandangan si pemuda. Ia tiba-tiba menyadari bahwa ia tak pernah terlalu tua untuk meraih mimpinya.

Jadi, ia mulai kuliah. Setelah memompa semangatnya dan menyingkat masa studinya menjadi tiga tahun, ia berhasil meraih gelar yang ia idamkan, lalu memutuskan untuk melanjutkannya hingga jenjang yang lebih tinggi.

Lihatlah, tak ada kata terlambat kan? Kecuali kita tidak memulai apapun. Benarkah bahwa kita tak pernah terlalu tua untuk memulai karir baru atau membuat perubahan dramatis dalam kehidupan kita?

Bagaimana jika kita berusia 72 atau bahkan 82 tahun? Apakah seusia itu kita terlambat untuk mempelajari bahasa baru? Ah, tidak juga.

Dua ratus tahun lalu negarawan Roma, Cato, mempelajari bahasa Yunani pada usia 80 tahun.

Bisakah kita lebih kreatif di usia itu? Bagaimana dengan Goethe? Mahakaryanya, ‘Faust’ belum sempurna hingga ia berusia 80 tahun. Dan Michelangelo berusia 71 tahuh ketika ia melukis Kapel Sistine.

Butuh contoh lebih banyak?

Luigi Cornaro, seorang terpelajar dari Venesia, mulai menulis geriatrik pada usia 83 tahun. Risalah klasiknya ‘The Joys of Old Age’ ditulis pada tahun 1562 ketika ia berusia 95 tahun!

Di era modern, seorang filosof besar, ahli matematik, dan pecinta perdamaian, Bertrand Russell, berpartisipasi dan ditahan dalam sebuah demonstrasi anti nuklir ketika ia berusia 89 tahun.

Dan tentu saja kita tak bisa melupakan Nenek Moses, yang mulai melukis di usia 80. Tahukan anda bahwa sekitar 25% lukisannya yaitu sebanyak 1,500 lukisan dibuatnya setelah ia berusia 100 tahun?

Kemudian ada Henry Little, seorang Presiden Direktur dari The Institution for Savings di Newburyport, Massachusetts, memutuskan untunk pensiun sehingga orang yang lebih muda bisa mengambil alih. Tuan Little pensiun ketika ia berusia 102 tahun!

Orang lebih muda yang ia maksud ternyata berusia 83 tahun. Sedikit Pelajaran Apa yang bisa kita pelajari dari contoh-contoh di atas?

Mereka semua sangat berhasrat tinggi dalam melakukan apa yang meraka kerjakan. Hasrat atau passion adalah sumber energi dan membuat seseorang tetap awet muda, sebagaimana yang ditulis Benjamin Franklin, “Mereka dengan cinta mendalam tak pernah tua, mungkin saja mereka meninggal karena usia tua, tapi sesungguhnya mereka mati muda.”

Mereka juga menyadari, bahwa lebih baik menjadi 70 tahun lebih muda daripada berusia 40 tahun, sehingga mereka tidak membiarkan usia menghambat mereka untuk mengejar mimpi. Mereka memahami bahwa tak ada kata terlambat untuk mulai mengerjakan sesuatu, dan saat ini lah waktu untuk bertindak.

Tidak seperti King Richard II, mereka tidak pernah berkeluh kesah, “Aku menyia-nyiakan waktu, dan sekarang waktu lah yang menyia-nyiakan aku”

Pelajaran lain yaitu ketika peluang muncul, mereka terjun ke dalamnya. Memang, pasti ada resiko di dalamnya, tapi mengapa kita takut akan kehidupan? Kematian, mungkin, tapi tidak dengan kehidupan.

Rita Coolidge menyadari pentingnya hal ini ketika ia berkata, “Terlalu sering peluang datang mengetuk, tapi saat kita melepas rantai, melepas gembok, membuka kunci dan mematikan alarm pencuri, saat itu sudah terlambat.”

Satu hal, bahwa obat mujarab untuk tetap awet muda adalah pengalaman dan pengetahuan baru yang kita dapat setiap hari.

Rupanya Henry Ford merasakan hal serupa, ketika ia berkata, “Siapapun yang berhenti belajar adalah kaum tua, tak peduli terjadi di usia 20 atau 80. Siapapun yang tetap belajar tidak cuma awet muda tapi tetap bernilai, tanpa memperhatikan kapasitas fisiknya.”

Pada akhirnya, ada pepatah Arab yang patut dipertimbangkan, “Ketika kau lihat orang tua yang ramah tamah, berwatak halus, mantap, berisi, dan mempunyai selera humor yang baik, yakinlah bahwa kemudaan, kemurah hatian, dan kesabaranlah yang mereka miliki. Pada akhirnya mereka tidak meratapi masa lalu, juga tidak takut pada masa depan; mereka seperti waktu malam di ujung hari yang menyenangkan.

+++++

Artikel yang sangat menarik, ntah tulisan siapa, sayanag sekali gw ga tau. Sangat setuju SEKALI (udah penalti ini kalo di pelajaran Bahasa Indonesia). Umur bukanlah batas untuk terus berkembang. Tanpa perkembangan, puas dengan keadaan, justru membuat kehidupan terasa hambar, lama2 menjadi hampa. Stuck is suck.

Berarti ga salah ya gw, target umur 30 udah jadi shredder, hahahaha... (shredder itu kalo kata wiki: Shred guitar or shredding is lead electric guitar playing that relies heavily on fast guitar solos :p)

\m/

NOTE: Foto diambil di St. James Park (kalo ga salah), London. Menarik melihat minat baca orang sana yang demikian kentalnya, tanpa pandang usia.

Tuesday, August 2, 2011

London, Exciting and Exhausting

Skadoosh! Just got back from London yesterday. Hehehe, a bit lucky sebenarnya, tiba2 dapat training dari kantor seminggu di sana. Wow! Ini mungkin yg namanya mimpi jadi kenyataan, karena London masuk ke dalam list mimpi gw, yaitu salah satu dari kota2 yg ingin gw kunjungi di seluruh dunia (berarti sisanya akan menyusul, amiiin). Dan kalo dipikir2 lagi, sebenarnya ini jg sedikit mewujudkan goal gw tahun ini, yakni mencicipi udara Eropa, wkwkwkwkw... Emang bener kayanya, kata beberapa motivator, kalo kita ingin sesuatu hal, make a list, write it down as a start. Voila, terwujud dgn sendirinya (dgn campur tangan Allah tentunya).

Dengan perjalanan yg cukup lama, sekitar 12 jam lebih, Jakarta-London sebenernya ternyata tidak sejauh itu :p Tentu saja tergantung penerbangan yg lo pilih. Kalo berangkat dgn modal kantor, the flight is fun. Dgn airbus 380 dari salah satu airlines international, selama di penerbangan ada tayangan TV di setiap kursi penumpang. Dijamin ga boring, soalnya ada banyak pilihan film2 baru, musik keren, dan game2 yg lumayan (ya tau diri dikit lah, masa ngarepin game sekelas Uncharted ada di optionnya :D). Satu hal yg gw pelajari dalam trip kali ini, long trip need books. Ya, buku utk dibaca. Bener2 membantu kala lo dirundung bosan, ntah bosan selama penerbangan atau saat menunggu penerbangan. Gw terpaksa beli novel Harry Potter and The Deathly Hallows gara2 gada bacaan pas penerbangan balik. Untungnya dari semua novel HP, emang seri terakhir ini yg belum pernah gw baca bukunya, so ga rugi2 amat lah beli di sana.

London, like the other big cities in the world, punya jaringan sarana transportasi yg sangat keren. Pernah naik MRT di Singapore? Di London lebih keren dan lebih integrated. Namanya Underground, atau kerennya disebut Tube. Kalo lo bisa baca peta, di jamin ga akan nyasar kemana2 selama lo nemu yg namanya Tube station. Ada satu lemahnya naik Tube, lo ga bisa liat suasana kota, soalnya nih kereta jalan di bawah tanah. Kalo mau liat view, paling enak naik bus double decker khas London. Harganya lebih murah sedikit dari Tube, tapi view yg lo dapat lebih asoy. Utk naik 2 sarana transport ini lo cukup punya satu kartu, Oyster. Sistemnya kaya beli voucher hape aja, top up atau isi ulang kalo habis. Dan tarif perjalanan dgn make Oyster lebih murah daripada lo beli tiket satuan di loket/ticket atm.

Mahal. Itu kesan yg gw sering baca di review internet ttg London. Iya, emang kalo dikurskan ke kurs lokal, emang jatuhnya mahal. Tapi bagi gw, selama ini, dalam beberapa kali gw mengalami perjalanan ke luar negeri, mahal atau murah itu menjadi relatif, sebab pola pikir gw ttg uang jg berubah/bergeser mengikuti pecahan uang yg berlaku. Misal, sekali makan 5 pound, kalo dikursin ke rupiah, sekitar 60rb, itu itungannya mahal. Tapi karena harga2 makanan emang sekitar segitu, ya terasa biasa aja sebenarnya. Dan 5 pound itu adalah makanan enak loh ya, bukan yg asal masak doang. Utk masalah wisata pun, di London ada banyak tempat gratisannya malah. National Gallery (di mana lo bisa liat lukisan2 jaman dulu kala, ada lukisannya Leonardo da Vinci, Rembrandt, sampe Van Gogh), National Portrait Gallery (sama sih ama National Gallery, lukisan2 gitu, tapi campur dgn foto2 portrait modern), British Museum (kalo mau ngeliat peninggalan Mesir, Syria, Yunani, dkk. Ada muminya Cleopatra yg asli di sini) dan Museum of London adalah tempat2 yg lo bisa masuki secara gratis, tis. Apalagi kalo cuman foto2 Big Ben, Buckingham Palace, Westminster Abbey, St Paul's Church, Parliament Building, ya elah, itu gratis banget :) Oh iya, di St Paul kalo lo dateng pas sore hari (hari minggu), bisa numpang denger symphony2 klasik dari organ khas gereja, mantap bgt.

Ada jg beberapa spot wisata yg sedikit perlu keluar uang buat dinikmati. Misal London Eye, lumayan jg ini bayarnya, tapi sepadan lah dgn pengalaman yg lo dapet. Meskipun sebenernya cuman naik Bianglala raksasa doang, tapi view dari atas utk seluruh penjuru London itu priceless. Madame Tussaud jg perlu bayar, tapi kapan lagi lo bisa dempet2an ama Lady Gaga atau Robert Pattinson (meski cuman patungnya doang :D). Intinya, uang yg lo keluarin itu sebenernya sepadan dgn pengalaman lo dapat, dan cerita2 yg akan lo kenang dan bisa lo bagi2 ke orang lain.

Kebetulan saat gw ke sana kemaren bertepatan dgn masa libur orang2 Eropa, summer. So, bisa ditebak, rame dimana2. Utk penggemar gadis bule seperti gw, waw, ini ibarat ditraktir es krim sampe kembung. Gadis2 cantik berseliweran dimana2, dari yg dandanan simpel casual, sampe yg modis abis jg ada. Kalo dah begini, wajib nongkrong di Picadilly Circus atau ngga di Trafalgar Square, pusat keramaian London :D, dimana kita jg bisa nonton banyak street perfomance yg keren2 (serius gw, keren2). Apalagi kalo ke Shaftesbury Avenue pas malam hari, bueeeeh, tumpah itu orang2 modis nan cantik berseliweran dimana2, soalnya disitu salah satu spot hiburan malam, kaya club, restoran berkelas, dan teater2. Yg cantik itu rata2 aksennya aneh alias dari luar negara berbahasa Inggris. Apa ini berarti gw linguist fetish? wkwkwkwk...

Ngomong2 soal teater, kata orang kalo ke London itu jgn sampe ngelewatin yg namanya pertunjukan teater khas London. Mungkin sama kali dgn ketenaran Broadway di New York, atau malah jgn2 di London ini asal muasalnya. Yg jelas karena gw ga terlalu mudeng ama teater2 musikal jadi gw pilih teater komedi aja. The 39 Steps, adalah komedi yg gw pilih karena reviewnya bagus, dan lokasi teaternya persis di daerah Picadilly Circus. Benar2 memukau! Pertunjukan dgn 4 orang pemain, namun dgn 139 karakter (kata brosurnya, gw ga ngitungin). Semuanya perfect, dari akting, lighting, penggunaan properti sampai kesan komedinya bener2 cerdas. Kalo dah begini, jd malu sendiri ngeliat acara komedi lokal, menyedihkan. Anyway, kalo mau beli tiket nonton teater2 kaya gini, jgn beli online, beli aja di konter2 tiket diskonan yg ada dimana2. Yg recommended sih katanya TKTS di Leicester Square, tapi karena pas gw kesana dah tutup, jadi gw beli di tempat laen di sekitaran situ jg. Harganya bisa sampe separonya loh. Ga rugi lah pokoknya, one of the best show I've ever watched.

Sebagai muslim, hal yg paling ribet pas bertandang ke negara non mayoritas muslim adalah mencari makan. Dari awal gw dah ribet sendiri searching lokasi2 tempat2 makan yg halal2, yg gw kaget ternyata di London cukup banyak. Tapi realnya di lapangan, ga seribet itu. Kita selalu lupa bahwa ada option ikan, seafood, dan salad. Tesco atau Tesco Express ada dimana2. Ini ibaratnya Indomaret lah kalo di Indonesia. Disitu lo bisa beli sandwich tuna/salmon, salad2 yg yummy, buah2 potong segar yg dah dikotakin, atau sushi. Ga perlu ribet nyari daging halal. Pret, salah satu tempat makan cepat saji yg terkenal di London, lebih gila lagi. Hampir di setiap sudut kota ada. Pret ini emang "warung" andalan London. Sama kaya di Tesco, tinggal pilih sandwich, salad, buah, sushi, sup sampe dessert kue2 coklat yg enak BANGET. Kalo dah kangen rasa daging ama nasi (ini yg katro banget Indonesianya :D), baru lari ke resto halal. Atau daripada repot dan mahal, bisa cari Wox In A Box, atau Chicken Wox, yg nyediain chinese food gitu tapi halal. Gw jg sempet nyicip resto Rasa Sayang di Oxford Street yg jg halal (punyanya Malaysia). Sayangnya utk masalah rasa, gw lebih milih Tesco atau Pret aja. Oh iya, cobain jg Fish and Chips khas Inggris, yg bisa lo dapetin di resto mana aja, hampir semuanya nyediain kayanya. Oh iya, satu lagi, selama di London breakfast gw selalu di hotel. Dan tipenya adalah British breakfast, yaitu meskipun prasmanan tapi pilihannya cuma aneka roti2 gitu, ham, tomat mentah ama telor rebus. Ham gw skip (masalah kehalalan), sisa roti, tomat ama telur. Begitu terus, every single day. But you know what? I like it, wkwkwkwk... Gw baru tau tomat campur telur rebus ternyata enak jg, asal dikasi merica ama garam :D

Jgn lupa belanja kalo ke London. Pasti ada aja yg nitip ntah gantungan kunci sampe tempelan kulkas. Kalo mau belanja yg hemat, mending pergi ke Camden Market atau Camden Lock. Harganya bisa ditawar, dan pilihannya lebih banyak dan unik2. Dan ga cuman souvenir2 pasaran begitu doang yg ada di sana. Ada berbagai macam kerajinan yg unik2 dan murah2. Kalo doyan belanja pasti seneng deh ke situ. Di sana ternyata jg pusat makanan loh, malah pilihannya internasional dari masakan Spanyol sampe Nigeria. Gw nyoba Phaella (seafood) dari Spanyol. Gw berani pilih soalnya si koki masaknya misah2 kualinya dgn daging2 laen. Kalo mau belanja yg branded ga bakal nemu di Camden, mending ke Oxford Street atau Regent Street aja, disitu pusatnya branded things (dari Zara, Burberry, FCUK, dll). Kalo lagi untung, pas lagi banyak diskon (kaya gw kemaren :D). Kalo ga sempat beli souvenir ke Camden, boleh jg beli di Lambert Souvenir deket Trafalgar Square. Menurut gw setelah survei harganya relatif lebih murah daripada stall2 di pinggir jalan.

Kurang lebih 8 hari gw di London, dan masih saja gw kekurangan waktu utk mengunjungi tempat2 yg sudah gw incer sebelumnya. Gw masih kelewatan Tower Bridge, Tower of London, Tate Modern, Portobello Market, Stamford Bridge (kandangnya Chelsea), Natural History Museum (pgn liat tengkorak dinosaurus), dan beberapa walk guided tour yg murah2. Bukan apa2, cape jg muter2, jalan kaki kesana kesini, karena terlalu banyak spot menarik di setiap sudutnya. Meskipun Tube ada hampir di setiap pusat massa berkumpul, tapi tetap saja, jalan kaki dari satu spot ke spot yg laen itu memakan energi. Gw heran dan takjub, orang di sana atau para Londoner jalannya cepat2. Gw yg orang Asia, yg harusnya logikanya lebih tahan banting dari mereka, malah kepayahan, wkwkwkwk... Satu lagi yg menarik gw perhatiin di London, ada banyak orang2 sepuh yg masih semangat hilir mudik dimana2. Di tube, di pinggir2 jalan, nongkrong di taman, atau sekedar ngopi di cafe. Dan sepuh ini bener2 sepuh, yg jalannya dah pake tongkat, rambut memutih, kulit keriput. Luar biasa, salut bgt gw ama semangat hidupnya. Ntah beda paradigma atau gimana, kayanya kalo di Indonesia, orang2 tua2 gitu dah pada males utk aktif di luar rumah. Pola pikir kita kayanya, kalo pensiun ya udah, selesai, males2an aja di rumah. Tapi tidak begitu yg gw liat di sana. Fascinating...

Huff... Seandainya gw punya waktu lebih banyak... Someday, I'll comeback, either alone, or with someone :)

Link untuk foto2nya :)
Travel

Wednesday, June 22, 2011

Kembali Ingat

Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat terdekat gw, perempuan, yang baru saja melahirkan bayi mungil yang cantik, memberi kabar bahwa ia sedang mengidap tumor di kepalanya. Deg. Awalnya gw ga terlalu menganggap serius, sebab waktu itu dia hanya menyebut nama ilmiah penyakitnya saja, yang langsung gw tau dari google merupakan tumor. Karena awal berita tersebut terputus di jalan (ya namanya juga lagi chatting, koneksi down itu wajar, apalagi di Indo), jadi gw pikir gw tunggu aja penjelasan lebih detil darinya. Dan ternyata memang benar, itu penyakit sangat serius. Ada jaringan tumor kecil tumbuh di belakang mata kanannya.

Pernah ga kalian mengalami saat sakit yang amat sangat, sehingga merasa ajal sudah di ambang pintu? Atau paling tidak, mendapat vonis sebuah penyakit bernama asing, yang belakangan setelah lo browsing ternyata penyakit yang cukup parah, yang akan menghantui lo seumur hidup? Sahabat gw sudah merasakannya, gw pun sudah merasakannya. Meskipun sebenarnya penyakit2 yang pernah menghampiri tubuh gw tidak seberat dan sekeren penyakit sahabat gw tadi, namun masa2 penuh ketakutan itu memang pernah melintas.

Gw masih ingat sakit teramat sangat yang pertama kali gw rasakan adalah saat gw kena hernia. Tiba2 tengah malam buta, mungkin saat itu gw masih duduk di bangku SD, gw merasakan sakit yang amat parah di perut bagian bawah dan bagian scrotum (itu loh, testikel laki2). Begitu sakitnya, sampai2 gw gedor pintu kamar orang tua, membangunkan mereka untuk berbuat sesuatu. Hey, gw anak SD, mana gw tau obatnya apa. Bingung, papa langsung membawa gw ke rumah sakit. Perjalanan ke rumah sakit, dengan menggunakan sepeda motor, adalah masa2 terberat. Luar biasa sakitnya, ditambah goncangan2 dari sepeda motor saat melaju di tengah malam. Saat itu yang terlintas di kepala: Ini nih kayanya waktu gw, mau 'lewat' jangan2. Sakit yang amat sangat, sampai2 terpikir akan mati. Ternyata gw kena hernia. Ntah apa sebabnya, namun yang jelas emang bukan karena sebab musabab yang disebabkan oleh keteledoran gw atau orang tua gw, tapi ya murni penyakit yang memang muncul tiba2. Alhamdulillah, setelah terapi pijat, penyakit ini sudah tidak pernah lagi muncul alias kumat. Namun pikiran kematian sudah dekat itu tetap saja membekas di kepala :)

Kemudian, lama hidup adem ayem saja, tiba2 saat tes kesehatan di salah satu perusahaan (saat baru lulus S1), ternyata ada vonis baru lagi. Scoliosis. Itu loh, tulang punggung yang tidak lurus, alias bengkok. Ternyata tulang punggung gw ada kebengkokan sekian derajat. Itupun diketahui setelah di rontgen. Selama ini memang tidak ada keluhan apa2 sebenarnya, namun namanya baru dapet vonis, langsung browsing2 dan menemukan fakta2 tentang scoliosis. Saat itu yang menjadi berat bukannya pikiran tentang kematian, namun fakta bahwa tubuh gw cacat, (dalam tanda kutip) dan kecacatan itu gw bawa terus sampai akhir hayat nanti. Down. Down terutama memikirkan bagaimana masa depan, susahnya mencari kerja, dan lain sebagainya. Alhamdulillah ternyata masih ada perusahaan yang tidak memusingkan masalah penyakit seperti scoliosis, jadi ketakutan akan penghidupan pun pelan2 menghilang. Ditambah lagi sampai saat ini alhamdulillah belum ada efek2 buruk dari bengkoknya tulang punggung ini, jadi yaaa dibawa enjoy aja.

Terakhir, yang paling baru, saat gw terkena hepatitis. Saat itu lagi sibuk2nya menyusun tesis S2. Begitu padatnya, sampai kondisi badan drop, dan gw tumbang dengan suksesnya selama hampir seminggu. Badan lemas luar biasa, makan hanya mampu beberapa suap (bukan karena pilih2 makanan, tapi muntah bos, baru cium baunya aja). Tidur pun gelisah luar biasa. Jikalau tertidur, pasti dengan tambahan mimpi2 aneh yang membuat kepala pusing. Lagi2, terlintas, jangan2 ini masa2 menuju waktu gw 'lewat' lagi. Tumbang beberapa hari, alhamdulillah ternyata perlahan2 membaik. Belakangan, setelah cek dokter, gw baru tau, dan konfirm kalau ternyata gw terkena Hepatitis A. Alhamdulillah penyakit ini (tipe A) ternyata bisa disembuhkan total, tidak seperti saudara2nya Hepatitis B dan C, yang akan menjadi momok seumur hidup. Easy guys, gw dah sembuh total kok, jadi ga perlu takut lagi share makanan ama gw, hehehehe...

Dari semua masa2 terberat itu, kesamaannya satu. Gw jadi inget Tuhan. Gw jadi inget Allah. Ingat dalam arti benar2 sadar bahwa gw sudah menyia2kan hidup gw dengan terus berbuat dosa, dan kurang taat pada perintah2Nya. Saat2 terberat seperti itu, biasanya saat dimana kita ingin benar2 taat sepenuhnya. Sholat jadi rajin, doa setiap saat, ngaji, dan segambreng ibadah yang tadinya cuman diamalkan seadanya, menjadi diamalkan semaksimalnya. Lucu dan memalukan sebenarnya, tobat di kala mendapat ujian. Malu sama Allah, baru inget kepadaNya setelah kehilangan sandaran dimana2. Kemana aja selama ini, barangkali begitu komentar yang mucul kalo kejadian di kalangan manusia :) Dan yang lebih lucu dan memalukan lagi, segera setelah ketakutan itu menghilang, sesegara itu juga perbuatan dosa kembali terulang.

Ya Allah ampuni hambamu yang bengal dan degil ini.

Mudah2an kita tidak memerlukan penyakit parah datang terlebih dahulu untuk menyadarkan kita kembali secepatnya kepada jalan yang benar. Mudah2an pula kita senantiasa diberi keikhlasan dalam menghadapi setiap ujian hidup termasuk penyakit yang menghampiri.

Lakukan yang terbaik detik ini juga, karena detik ini tidak akan pernah terulang lagi kemudian.

Sunday, May 15, 2011

Fase Kehidupan

Pernahkah kalian merenung tentang kehidupan? Gw pernah. Kadang dari renungan2 malam seperti ini, gw bisa dapat pencerahan atas permasalahan2 yg sedang mengganggu pikiran gw. Simpel sebenarnya. Kita cuma perlu suasana yang tenang, sepi, kondisi pikiran sedang santai, dan waktu yang sengaja diluangkan untuk melakukannya.

Hidup di kota besar seperti Jakarta, dengan segala kesibukannya, membuat gw kadang kehilangan waktu untuk menyendiri. Pekerjaan yang melelahkan membuat waktu pribadi gw habis untuk beristirahat. Weekend memberi gw waktu, tapi tidak dengan ruang. Kesibukan kota yang padat tidak meninggalkan ruang untuk gw bersunyi sepi. Maka saat2 seperti liburan, mudik ke kampung atau dinas ke kota kecil seperti inilah yang kemudian menjadi saat yang tepat untuk merenung.

Renungan terakhir gw terjadi beberapa malam yang lalu, malam minggu tepatnya. Mungkin masih sekitar pukul 9-10 malam saat itu, namun di KB suasana sudah sangat sepi. Toko2 di pusat kota sudah tertutup rapat, hanya ada satu dua saja yang masih buka (itupun dalam proses siap2 menutup toko). Gw dah bawa bekal, satu es krim walls (paddle pop kayanya), sama satu botol dingin teh hijau merknya ga familiar. Dari lamunan malam itu, gw baru sadar, kalo hidup gw ini tersusun dari fase2. Kadang, satu fase beririsan dengan fase yang lain. Tapi kebanyakan, satu fase terselesaikan dulu, kemudian dimulai dengan fase yang baru.

Fase awal dari pembentukan diri gw adalah fase sekolah,tentunya. Fase SD, SMP, SMA, Kuliah. Semuanya terlewati dengan baik, dengan prestasi dan kenangan2 yang baik pula. Dari kuliah, lanjut ke fase pengenalan kerja. Mulai dari kerja kontrak salah satu perusahaan lokal di Bandung, kemudian lanjut kerja di perusahaan swasta yang lumayan besar di Jakarta. Yang menarik, terutama dari fase kuliah ke kerja, semua berjalan berurutan seperti memang sudah jalurnya harus seperti itu. Selesai kuliah, sebelum wisuda, gw sudah ditarik (diajak teman sebenernya) untuk bekerja secara project term. Untuk ukuran mahasiswa yang belum resmi mendapat gelar sarjana, tawaran seperti ini sangat menarik. Dengan gaji yang termasuk besar untuk seorang "mahasiswa" dan peluang untuk bekerja di perusahaan yang termasuk bergengsi di kalangan lingkungan perkuliahan gw waktu itu, ya gw sangat bersyukur. Lalu, saat project sudah mau selesai, tiba2 dosen gw merekomendasikan gw ke perusahaan yang lebih besar lagi berpusat di Jakarta. Alhamdulillah, keterima dengan lancar. Jadi bisa dibilang, selesai fase pengenalan kerja di Bandung, gw langsung diberikan kesempatan kerja long term setelahnya.

Indah bukan?

Demikian pula dengan cinta. Sepanjang kehidupan gw, yang namanya cinta, datang dalam fase. Selesai satu fase, baru kemudian datang fase yang lain. Meskipun pada kenyataanya, untuk kasus yang satu ini, jeda waktu antara fase satu dan yang lain bisa cukup lama, hehehehe. Kadang fase bercinta ini juga berakhir, dan langsung berlanjut ke fase kehidupan yang lain. Contoh paling baru ya tentu dari hubungan serius gw yang terakhir. Saat lepas dari cinta, ternyata fase baru langsung dimulai, kuliah pasca sarjana. Dan benar2 murni fase pasca sarjana ini berjalan tanpa ada irisan sedikit pun dengan fase sebelumnya. Bahkan hingga selesai :D Lagi2 hal menarik terjadi. Setelah selesai fase S2 tersebut, tiba2 kantor mendapat project yang lumayan besar di luar, yang mengharuskan gw untuk mengerjakan project yang bersangkutan di luar negeri dalam bilangan minggu. Benar2 waktu yang tepat bukan? Bayangkan bila project tersebut datang saat gw sibuk2nya kuliah, atau malah lebih parah, sibuk2nya mengerjakan tesis? Padahal pekerjaan project ke luar seperti itu, adalah ladang mencari jagung, eh, mendulang emas sebanyak2nya buat kami pekerja lokal. Jadi bisa dibilang, setelah fase kuliah selesai, mulai lagi fase yang baru, yakni fase mengumpulkan modal :D.

Nikmat ga sih?

Semua fase kehidupan tadi tentu ga akan bermakna sama, kalo gw ga memaknainya lewat renungan malam itu. Hal2 tersebut hanya akan berlalu begitu saja tanpa makna, karena demikianlah hidup, dinamis. Semua hal berlalu begitu saja, tergerus waktu. Makanya, perlu untuk berhenti sejenak, rileks, dan mulai memaknai pencapaian2 dalam hidup kita.

Fase terakhir masih gw jalanin sampe detik gw menulis blog ini. Ntah apa nanti endingnya fase ini, apakah emas yang terkumpul menjadi modal berbisnis, atau modal travelling, atau malah modal menikah, masih merupakan kemungkinan2 yang belum terjawab. Mungkin benar kata orang, semua akan indah pada waktunya. Dan percaya atau tidak, kenangan dari semua fase kehidupan tadi, hampir semuanya indah. Bukan berarti tidak ada nestapa yang menghampiri kehidupan gw, tapi ntah kenapa, hampir semua duka yang pernah gw alami, susah untuk diingat2.

Kalo kata Allah SWT, nikmatKu yang mana lagi yang kau dustakan? :)

note:
Foto yg gw sertakan, gw ambil saat renungan ini terjadi. Cakep ya? :p

Sunday, May 1, 2011

Bali = Biasa

Jangan pada kepancing emosi dulu ngebaca judulnya ya, baca dulu ceritanya :)

Akhirnya, beberapa hari yg lalu kesampean jg gw mewujudkan keinginan papa mama utk liburan ke Bali rame2 sekeluarga. Rame2 ini sebenernya cuman 4 orang sih, wong kita ini korban program KB, jadi ya cuman bapak ibu dan dua orang anak (yg sok sibuk). Ntah papa atau mama yg sebenernya pengen bgt ke Bali, pas ditanya dua2nya malu2 kucing ga mau ngaku, malah saling nuduh :) Tapi memang keduanya belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Bali. Sementara gw ama ade udah pernah, gw dulu waktu ada pameran kerjaan, ade gw pas waktu ada kunjungan pabrik apa gitu dari kampusnya. So si anak2 ini lah yg akhirnya ngatur2 segala macam, mulai dari tiket pp, hotel, sewa mobil, sampe rute perjalanan utk tempat2 yg "ok" utk disinggahi. Mengingat ini perjalanan bersama orang tua, tempat2 HEDON jelas dicoret dari list, wkwkwkwk...

Ga mudah ngatur rencana liburan keluarga begini. Meski gw dah jauh2 hari survey di forum andalan, tetep aja yg namanya kendala muncul ga bawa undangan. Fakta di lapangan kadang ga sesuai sama hal2 yg sudah kita survey sebelumnya. Untunglah, liburan tetep fun, dan meskipun over budget, tapi masih dalam batas toleransi laaah.

Kita cuman ngabisin total 4 hari di Bali, anggap aja 3 hari, soalnya hari terakhir dapet tiketnya rada pagi, jadi ga kemana2 jg. Hari pertama, papa mama dan ade gw sampe duluan di Ngurah Rai, soalnya mereka berangkat bareng dari Surabaya (papa mama ke Surabaya dulu). Sementara gw, datang agak belakangan (cuman beda itungan menit) dari Jakarta. Begitu sampe ya kita langsung cari hotel. Ternyata oh ternyata, sejumlah list hotel yg udah gw survey "murah" ternyata menarik biaya per orang (bukan per kamar!). Gile, dari pertama gini aja udah over budget utk nginep. Atas saran supir taksi yg kita naiki, mulailah kita survey penginapan lain. Poppies terlalu rame dan berisik utk liburan keluarga (apa lagi bawa kalo bawa orang tua), not recommended, terlalu jauh dari jalan besar. Setelah keluar masuk penginapan (yg rata2 charge per person), akhirnya gw mutusin utk ke hotel dulu gw pernah nginep, daerah Kartika Plaza. 300rb per kamar utk dua orang, dah ada AC dan tipi. Lokasi ga jauh2 amat dari jalan gede (ya Kartika Plaza), dan Discovery Mall tentunya (asik lah buat anak mall kaya gw :D). Sampai matahari mulai terbenam, kita menghabiskan waktu di pantai Kuta, sambil ngopi yg bikinnya di circle K terdekat. Meskipun bukan high season, pantai cukup rame. Papa mama sibuk ngomentari bule2, mulai dari yg berbikini, sampe yg bawa "pembantunya" (apa pacarnya ya?? wkwkwkwk). Hari mulai gelap, so kita pindah mau cari makan. Awalnya mau sambil lewat ke Legian (mau ke Ground Zero) dan cari makan disana. Tapi ternyata, jalan kaki ke Legian dari Kuta lumayan bikin ngos2an papa mama sodara2 :) Dan... sampe Legian kita jg ga nemu tempat makan yg bersahabat :) Ya udah habis foto2 di Ground Zero bentar, langsung naik taksi cabut ke Ayam Betutu di Jl Raya Kuta. Ade gw kepincut ama sambel bawangnya, sementara papa, kumat maagnya gara2 kepedasan, hehehe...

Hari kedua, karena ini namanya liburan santai, so kita carter mobil aja lah plus drivernya. Suzuki APV sudah sama ongkos supir dan bensin utk carter 10 jam, 400rb. Sebenernya standarnya bisa dapet lebih murah, 350rb aja, tapi karena kita order dari hotel nambah deh 50rb. Hari kedua, emang sudah direncakan utk maen di jalur selatan aja. Tadinya mau singgah ke Sukawati dulu, tapi ternyata terlalu jauh, takut ga keburu. Jadi ya start ke Nusa Dua aja. Karena pantai2 di Nusa Dua dimonopoli ama hotel2 elit, jadi kita maennya ke pantai umum aja. Pengen ke Geger, cuman katanya di Geger bagus kalo mau renang, so kita belok ke Mengiat aja. Ternyata tetep, dominasi bule di pantai ini lebih gila daripada di Kuta. Kayanya yg turis domestik cuman gw sekeluarga doang wkwkwkw... Jadi aneh deh, ngeliat sekeluarga berpakaian lengkap, sementara yg laen setengah telanjang. Pantainya ya standar Nusa Dua lah ya, pasir putih bersih, dgn perairan dangkal, enak banget buat yg mau berenang. Karena kita saltum dan emang ga doyan berjemur (dah pada item), ya cabut langsung ke lokasi berikutnya, GWK (Garuda Wisnu Kencana). Itutuh patung2 raksasa Wisnu yg digendong Garuda (yg ga jadi2 dari 1997). Masuknya ga mahal, berempat ga sampe 50rb. Dari sini yg keren menurut gw adalah potongan2 dari bukit kapurnya yg dibuat sedemikian rupa jadi tebing2 yg bagus. Terus bisa liat "leher" pulau Bali di area patung Wisnu. Karena naik turun tangga, papa gempor jg :). Btw, kita makan di warung bandung di area GWK ini, ngakunya Sunda semua, ternyata satu orang ditanyain papa ngakunya dari banyuwangi, wkwkwkwk... Abis GWK, kita cabut ke Dreamland, yg katanya "keren bgt". Masuk dari Pecatu Resort, tempat masuknya ngga banget. Cuman kaya parkiran liar, dgn jalan masuk berbatu. Lagi2 medan berat buat bokap :D. Tapi demi tau yg namanya Dreamland, yah dijabanin aja. Ternyata pantainya ga terlalu besar, dan tidak sekeren bayangan gw. Karang2nya bagus2 sih, cuman karena terlalu sempit jadi bener2 diluar ekspektasi gw. Dan ombaknya, yg katanya ok buat surfing, masih kalah ama Sawarna. Mana pas kesana, penuh ama bocah2 abege yg liburan abis ujian. Buset, itu bocah2 pada rebutan foto ama bule, wkwkwkw... Untungnya ada ibu2 tukang pijet seliweran, papa mama dan ade gw akhirnya dipijet. Pijet sebadanan 100rb, kaki doang 50rb. Tambah sewa kursi panjang buat baring 50rb. Lumayan enak kayanya, papa ampe ketiduran, wkwkwk... Tapi hasil pijet2 itu impas, soalnya baliknya lewat medan berat itu lagi, apes hehehe. Dari situ, sesuai rencana, kita ngincer nonton kecak pas sunset di ujung tebing Uluwatu. Monyet Uluwatu yg terkenal usil memakan korban. Sendal murah ade gw yg ada payet2nya dilahap ama monyet garong, wkwkwkwk... sampe teriak2 dia pas kakinya disamber. Tas plastik isi air mineral yg dipegang mama jg kena rampas pas baru mulai masuk lokasi :D. Sampe trauma si ade, ga berani pake sendal lagi, tuh sendal akhirnya masuk tas, wkwkwkwk... Kecaknya seperti biasa, memang keren. Agak mahal untuk nonton kecak, per orang kena 70rb. Sayang cuaca kurang begitu cerah waktu itu sehingga sunsetnya kurang berkesan buat gw, ga seperti waktu pertama gw tonton dulu. Final destination hari itu tentunya Jimbaran, makan seafood di pinggir pantai. Dulu waktu kesana, gw ke bagian Jimbaran yg rame, mungkin versi menengahnya. Jadi begitu masuk dan pilih2 ikan langsung berhadapan ama puluhan meja yg penuh terisi. Sementara kemaren, mungkin karena si supir menilai kita cukup berduit (wkwkwkwk), malah dimasukin ke bagian jimbaran yg elit. Areanya sepi, dgn tatanan meja yg agak berjauhan, bener2 utk kaum berduit kayanya. Dan itu terbukti, pas bayar, hahahaha... Meski sudah ancer2, tetep aja shock ngeliat digit banyak begitu. Untungnya masakannya terbilang enak bgt, kalo ngga, bisa ngamuk2 sepanjang jalan :D Namanya JBL, katanya si supir sih ini area yg kena bom waktu 2005.

Hari ketiga, rute timur. Dimulai dari nonton Barong di Batu Bulan, 80rb seorang. Pertunjukan tari Barong, dgn posisi menonton mirip seperti di bioskop, cukup menghibur dgn tari2annya, lelucon2nya, sampe ada atraksi ilmu kebal segala. Terus dari situ, kita langsung merapat ke Sukawati, maklum, ibu2 belanja sudah bawel dari kemaren. Emang sih murah2 disana, kalo mau beli yg pasaran2 oleh2 bali kaya baju barong, daster, gantungan kunci, disitu tempatnya, cuman ramenya itu loh, buset bisa pingsan gw kelamaan di dalam. Yg borong banyak ya emak gw ama ade gw. Bokap gw ama gw cuman keliling2 doang, ga kuat ngaduk2 pasar. Cape ngudek2 pasar, kita cabut ke Ubud. Bingung mau ngapain disini, soalnya badan dah cape, so ngaso aja lah di Bebek Bengil. Lokasinya lumayan jg, deket2 sawah2 gitu. Mungkin bagi orang2 yg emang ga pernah liat sawah, ini resto keren. Cuman buat gw ya biasa aja, ga spesial2 amat :D Tapi emang bebeknya enak banget, sebanding harganya yg seporsi 75rb. Wakakakaka... bisa dapet berapa porsi tuh kalo buat beli bebek goreng warung di Cilandak. Tapi kalo saklek bgt mau jauhin subhat, mending jgn makan disini, soalnya belakangan gw liat di menunya ada BBQ babi ama babi guling :D. Karena ini makanan gorengan yah gw berprasangka baik masaknya ga barengan. Kalo buat leha2, ok lah, mesti pas dapet tempat yg ok di bale2 lesehan. Gw pas bgt dapet spot yg ok, lesehan di lantai dua. Liburan ama keluarga ga afdol kalo gada obrolan2 santainya ama orang tua. Nah di resto inilah, karena tempatnya mendukung bgt, obrolan2 yg santai dan berbobot keluar semua :) Abis puas ngobrol, ternyata udah agak sore. Tadinya mau ke Kintamani segala, Tampak Siring dll, cuman ternyata ga keburu. Bisa kemalaman di jalan. Ya udah banting setir aja ke Tanah Lot, biar ortu tau salah satu ikon Bali yg ini jg. Dasar emang lagi weekend, di Tanah Lot ternyata lagi rame bgt ama turis. Jadi agak malas mau lama2, apalagi kalo pake nyari spot foto segala, beuh, bocor kemana2. Akhirnya setelah enyak babeh nyobain mata air yg di bawah pura, kita balik deh. Masih mau ngejar belanja di Discovery malemnya :)

3 days in one of the beautiful island in this country, and my father still said, "Papa ga nemu, apa sih istimewanya Bali, sampe bikin orang2 pengen balik lagi ke sini". Wkwkwkwkw... Mungkin memang bagi beliau, yg emang doyan jalan2, yg emang lahir pedesaan, hal2 yg bagi sebagian orang tampak spektakuler, tampak biasa aja menurut beliau. Ya ntah karena emang udah terlalu sering melihat hal sejenis (yg bersifat tradisional2 gitu), atau emang keindahan duniawi sudah ga terlalu menarik lagi bagi beliau. Ini bakal beda jadinya, kalo dibawa Umrah atau Haji :D, bisa panjang lebar ceritanya :D

Gw yakin liburan ini berkesan buat keluarga gw. Secara ini adalah liburan bareng2 yg udah lama bgt ga pernah kita lakuin. Ada banyak kenangan yg bisa jadi bahan cerita utk bertahun2 kedepan. Misal, ngobrolin si bule dan 'pembantunya' di Kuta, ngetawain ade gw yg pucat dikejar monyet di Uluwatu, ngubek2 sukawati buat nyari gelang dari cangkang kerang bareng nyokap, sampe ketiduran di pijet di Dreamland dgn celana jeans (padahal yg bule2 pada pake baju bertali satu semua :D). Oh dan ga lupa, obrolan2 penuh makna, di pojokan lesehan Bebek Bengil Ubud. Aaaah, menulis tulisan ini aja bikin gw senyum2 lagi. Next time mudah2an gw bisa bawa jalan lagi keluarga gw. Next candidate: Lombok, Singapura, atau Kuala Lumpur. Tapi sebelumnya, tentu gw jalan2 duluan (dgn alasan survey), wkwkwkwkwkw...

Nabung2 dimulai lagi...

Oie, apa gw ke Eropa dulu yaaaa??? wkwkwkwkw....

Thursday, December 30, 2010

AFF Habis, Terus Apa?


Euforia sepak bola tiba2 melanda seluruh negeri. Tiba2, semua orang berbicara ttg bola. Ya, memang bukan bola secara keseluruhan (seperti membicarakan klub2 internasional yg sebenarnya tiap minggu ada yg maen) tapi hanya khusus mengenai timnas sepak bola kita yg performanya sedang bagus, sehingga bisa tembus ke final AFF suzuki cup. Seingat gw, euforia ini bermula terutama saat semi final Indonesia lawan Filipina. Ntah kenapa saat itu hampir semua stasiun tv kemudian seolah berlomba2 membuat liputan ttg timnas. Tidak hanya liputan resmi dari berita, bahkan infotainment sekalipun jg ikut2an latah (atau aji mumpung?) menayangkan liputan timnas.

Membosankan.

Bukannya gw ga nasionalis, bukannya gw ga mendukung perjuangan timnas (hey gw bela2in beli antena baru demi nonton final tau!), tapi gw merasa euforia masyarakat ini menggelikan. Kemana aja dulu waktu tim kita bertanding (kayanya pas penyisihan awal ga seheboh ini). Dan seingat gw, dulu pada event yg lebih bergengsi, piala Asia, euforianya tidak seperti ini. Padahal sempat lawan Korea segala loh (apa karena udah pasti kalah ya? :o). Sekarang tiba2 semua orang, tanpa pandang usia dan pekerjaan, pada latah ngikutin piala AFF ini. Pasar2 kaget dibanjiri kaos2 timnas berwarna merah, apalagi pedagang2 kagetan sekitar senayan, wuiih, rame bener jualannya (pengen padahal beli jaket yg murah disitu, denger2 cuman 40rb an :D). Yg jelas euforia ini sasaran empuk pasar pedagang lah.

Menurut gw, penyebab euforia ini paling utama disebabkan karena media. Siang malam media dgn gencarnya menayangkan siaran ttg timnas, ttg profil pemain dan keluarganya, ttg politisasi PSSI, dll. Untuk negeri ini, yg masyarakatnya sangat melek informasi (nonton tv melulu), jelas seperti disugesti pelan2 oleh media. Jelas menunjukkan betapa besarnya pengaruh media pada kehidupan rakyat negeri ini. Makanya ga heran sebagian media jg dimanfaatkan oleh kepentingan politik sekarang ini, karena memang terbukti berpengaruh besar dalam menarik simpati massa. Lalu penyebab kedua adalah pesona seorang Irfan Bachdim. Ya, Irfan, pemuda ganteng di antara pemaen2 laen yg (maaf) tampangnya biasa saja. Magnet kuat bagi para perempuan yg jg "lagi2" latah ikut2an meramaikan perhelatan juara. Dulu, mana adaaa... Mau nonton di GBK/stadion pasti males, karena potensi rusuh, tergencet2, panas, make up luntur, dll. Hehehe, lucu bukan? Ketiga, lawan di partai final, yakni "musuh" bebuyutan sebagian besar orang Indonesia, Malaysia. Partai final yg tentunya ga akan dilewatkan troll2 dunia maya, karena secara ga langsung ini pertarungan harga diri bangsa (yg ntah keberadaannya masih ada atau tidak), akibat perang dingin yg sedang dan masih berlangsung hingga sekarang antar kedua negara. Kebencian antar kedua kubu ini terlihat jelas, dari postingan2 twitter, postingan2 forum, status2 facebook, bahkan foto2 provokasi yg sering terpampang dimana2. Ga usah dibahas deh mengenai masalah perang dingin ini. Cape. Perang yg bodoh, ditanggapi jg secara bodoh, dan tidak pernah diselesaikan dgn elegan oleh pemerintah kedua negara.

Akhirnya fakta berbicara, tim negeri ini kalah hanya karena satu pertandingan saja. Catat, satu pertandingan saja, di antara sejumlah kemenangan lainnya. Dan kekalahan tsb telak terjadi di kandang lawan, di negara yg dihina2 sebagian orang. Kekalahan yg wajar, mengingat sebelumnya merekalah yg kita bantai habis2an di penyisihan, mengingat mereka bermain di kandang sendiri, mengingat permainan timnas yg tidak terlalu bagus malam itu. Di mata gw timnas Malaysia punya dua striker yg sangat tangguh. Kekalahan di Bukit Jalil tidak dipungkiri adalah kontribusi besar kedua striker tsb. Apalagi kalo gw boleh analisis pertandingan final, memang tim kita banyak membuat peluang, tapi peluang2 tsb bisa gw bilang peluang yg BIASA2 saja. Coba lihat dari sedikit peluang2 yg Malaysia ciptakan, sekali counter attack, namun langsung mengancam gawang. Dan akhirnya kita hanya bisa manyun melihat kegembiraan mereka mengangkat tropi kemenangan.

Dan kita, sibuk menyalahkan laser, menyalahkan Nurdin, menyalahkan Bakrie, dan kambing2 yg laen. Padahal, kasus laser jg terjadi di GBK kemaren (hanya saja ntah kenapa goal keeper Malaysia jarang di zoom, ditutup2i kah? :D). Untuk Nurdin, gw angkat tangan, gw ga tau ada apa dgn Nurdin. Lagpipula menurut gw penurunan Nurdin jg tidak membawa angin segar bagi PSSI, kalo rezim dan cara2 pembinaan yg lama dan usang masih dipertahankan. Sementara Bakrie, baiklah, ini boleh. Silakan, salahkan saja orang ini :) Yang miris (sekaligus lucu sebenernya) adalah, langkah kebanyakan troll2 internet, yg bodoh dan kurang etika, yg menyerang personal2 di timnas lawan, terutama sekali yg gw liat kebanyakan ttg pelatih Rajagopal. Bagus kawan troll, anda semakin menunjukkan kepada dunia kalo bangsa ini tidak beretika dan elegan sama sekali. Dan sudah pasti, ada aksi ada reaksi. Kebencian macam ini cuma memicu balasan kebencian lagi dari pihak tetangga. Dan akhirnya, perseteruan yg bodoh tiada akhirnya.

Turnamen sudah selesai. Lantas apa? Masihkah para fans dadakan mendukung persepakbolaan nasional nantinya seheboh kemarin (ga usah nonton sea games deh, nonton ISL aja dulu)? Masihkah para politikus kesiangan menaruh perhatian lebih bagi persepakbolaan nasional (tiket nonton saja kemaren gratis)? Yaaa, mudah2an. Mudah2an nanti kita ga perlu repot2 nasionalisasi pemain asing, karena udah punya pemain lokal yg handal (tuh kita punya banyak bibit muda juara turnamen eropa). Mudah2an nanti punya banyak lapangan bola kelas internasional, jadi ga cuma maen di GBK melulu. Mudah2an nanti make kaos klub lokal semembanggakan memakai kaos klub2 itali atau inggris (tapi maaf desainnya sekarang masih norak2 :p).

Yaaa... mudah2an...

Gambar boleh nyomot dari sini

Friday, December 24, 2010

Ngudak Ngaduk Keranjang Diskonan!!


Its Christmas and Near a New Year celebration. Pada lagi banyak diskon di mana2, weleh2. Ni orang2 pada berduit di akhir tahun kali yak? Mal pada rame, sumpek ama pengunjung. Mau mal gede sekelas Senayan City atau Pondok Indah Mal atau mal yang lebih kecil seperti Cilandak Mal atau Poins Square, rombongan haji..eh..shoppers membludak.

Gw sih bisa keikut jg euforia belanja belanji, sayangnya gw dah belanja belanji kemaren abis balik Brunei, ada duit lebih (mayan) dari bonus :D Jadinya malah manyun jg sekarang, barang diskonannya lebih banyak. Untungnya ada tempat2 semacam taman puring, yg nyediain barang2 murah berkualitas lumayan. Orang2 sih bilangnya KW. Pada tau ga singkatan KW? Konon katanya itu Kualitas Wahid :D, ntah ini bikinan almarhum Gus Dur apa bukan (abdurrahman wahid :red). Gw ga masalah make barang KW. Toh kalo gw yg make, orang2 ngiranya asli, wkwkwkwkw... Beli KW jg mesti pinter2 kali, jgn yg keliatan bgt palsunya. Cari barang2 yg istilahnya KW super, kalo dulu baru sampe KW 1, KW2, dst, sekarang udah pake embel2 super saking miripnya. Yg menarik adalah, barang2 KW ini rata2 datang dari Cina, atau malah dari produksi lokal. Kalo Cina sih, ga usah heran lah ya, semua barang tiruan memang datang dari sana. Tapi itu membuktikan kalo mereka mampu menghasilkan barang yg, yaah sebelas dua belas lah ama yg asli, yg penting bisa :)

Naaaah, kalo produk lokal ini yg lebih seru. Sekarang udah banyak bgt barang2 branded produk lokal, biasanya sih daerah2 Jabar (Tasik, Bandung, dll). Mulai kaos, sepatu, sendal, dll. Dan ga seperti dulu, barang2 KW sekarang canggih2. Gw liat di tampur (taman puring), kaos2 KW nya sekarang keren2, kualitas kaos udah ok bgt. Kalo dulu pake KW biasanya kaos panas, gatel dsb, sekarang...yaaah... dah mirip2 kualitas kaos Giordano atau Topman lah, tipis setipis kondom sutra. Apalagi yg namanya sepatu, meeeh, surganya jg nih di tampur. Kalo lg beruntung kita bisa dapet barang ori beneran, yg nyelip di dagangan orang2 situ (either emang ori beneran atau ori second hand). Sayang bgt, gw dah beli kaos beberapa waktu yg lalu di blok M (lagi diskon jg, lumayan dapet kaos luar yg murah :p), jadi kemaren cuman ngangkut sepatu lapangan aja wkwkwkw... Mesti pinter2 nawar kalo belanja beginian, cuman gw ga tegaan, jadi yaaa kasi deh si mamangnya harga agak tinggi (meeeh meski udah harga tawaran awal gw, harusnya bisa lebih rendah 50 ribu tuh -ga mau rugi blas-)

Menarik melihat barang branded buatan lokal. Hal ini sebenernya menunjukkan kalo bangsa ini sebenernya bisa membuat produk2 yg ga kalah ama produk luar. Mana kalo dipikir2 sebenernya harga2 luar itu yg ga masuk akal. Masa kaos bisa sampe 500jt an sebiji? Dan herannya orang2 rela beli demi prestis. Liat deh yg keluar masuk Mango di mal2 gede, padahal kalo di UK, Mango ini cuman toko baju kelas bawah :D Sayangnya mungkin kurang banyak peminat/penanam modal yg berpikir kedepan, atau pemerintah (lagi2) yg kurang memberi kemudahan bagi para pengusaha produk ini. Padahal potensinya ada banget. Nike aja, yg bikin adalah tangan2 kasar pekerja lokal bangsa ini. Jadi inget di bandung, ada banyak brand lokal yg jadi raja di sana. Ntah sekarang ya, tapi dulu, make baju RSCH atau 347 itu dah berasa keren bgt lah.. jadi pengen belanja lagi disana :)

Yah mudah2an someday produk2 lokal bisa jadi raja di negeri ini, dan kalo perlu kita berangus pasar dunia dgn produk2 Indonesia!

Oia, terakhir, seperti biasa, sisipan foto. Cuman foto iseng di pinggiran sungai Belait.

Sunday, October 3, 2010

Weekend Tanpa Photoshop

Hey guys. I'm writing in Brunei again. It's been two weeks now. Kemungkinan job ini bakal bertahan sampai sebulan kedepan. Huff.. lelah.

Tidak ada hiburan disini (Kuala Belait, Brunei - red). Bioskop gada, mal apalagi. Bener2 mirip Samarinda jaman dulu kala, dimana cuman ada satu tempat nongkrong favorit keluarga, Citra Niaga! Wakakakakak.. Nah sama disini. Model2nya sama seperti Citra Niaga, dimana ada satu komplek perbelanjaan yg dipenuhi ruko2. Ada yg jual sepatu (Bata, hellloooo), DVD2 boxset Malay, barber shop (yg ntah kenapa isinya orang india), dobi (binatu aka laundry), toko kelontong, toko henpon, kedai2 makanan, sampe toko kecantikan utk wanita. Oh iya, ada dua kedai rasis disini. Ada tulisan "Bukan tempat makan Muslim", hahahaha.. rasis ga tuh? Hehehehe, i know, i know, becanda. Itu cuma peringatan pada dua kedai tersebut, bahwa mereka tidak menyediakan makanan halal (ya iya lah, wong kedai makanan cina).

Nah gada hiburan, akibatnya udah tau dong : weekend merana! Haih, setelah minggu sebelumnya gw habiskan dgn ngendon di kamar dan hanya keluar makan (GOD!!), minggu kemaren gw memutuskan utk mencoba eksplor ini kota kecil. Sabtu pagi abis sarapan, gw kabur melangkahkan kaki (halah) mencoba mengitari ni kota. Buset! Ternyata panas luarbiasa disini, padahal gw start jam 9.30an. Mana gada warung sepanjang jalan, betul2 lempeng, rumah, rumah, dan rumah thok! Panas jeeek, mana gw pake baju item ama jeans gelap pula. Buaaah. Karena niat emang nyari lokasi bagus utk jepret2, ya udah gw mantapkan saja utk terus melangkah, sehingga akhirnya sampai di sebuah pantai. Lumayan dapat beberapa stok bagus. Karena panasnya makin ga ketulungan, gw cabut.Orang sini sih enak, pake mobil semua, pada heran kali yeee liat orang item pake item jalan sampe item ("eh tengok itu Indon", kira2 itu yg gw bayangkan terlintas di pikiran mereka kalo berpapasan di jalan, hahahaha). Sebelum gw bener2 cabut, di kejauhan antara horizon dan tepi pantai, terlihat ada semacam dermaga batu yg memanjang ke arah laut. Lokasinya sekelebat mata sepertinya jauh, sebab sangat tipis terlihat. Hm... ini nih lokasi jepret selanjutnya :D Gw belum pasti jg sih, itu beneran dermaga, atau halusinasi gw aja yg mulai gila kebingungan nyari spot bagus buat jepret. Ah.. sore aja, pikir gw, dah cape gilaaa.

Sorenya gw jabanin bener2 nyari lokasi tuh dermaga batu. Nyusurin pantai booo, panjang beneeer. Sampe jg sih akhirnya. Ternyata bukan dermaga. Tapi cuman batu2 yg sepertinya sengaja diatur demikian rupa, untuk mengarahkan kapal2 yg keluar masuk muara sungai. Ya, ternyata itu terletak di muara sungai menuju laut. Dan ternyata lagi, ada banyak mobil disana (melongo dot com). Shit, gw jalan kaki jauh, eh dia orang ternyata pada pake mobil melintasi pantai. Usut punya usut, disitu tempat mangkalnya tukang mancing. Cuman gw kayanya yg kesitu ga bawa pancingan :p Ini batubatusetapakmenjorokkelaut (sebut saja begitu) ternyata puuaaaanjaaaang. Cape nyusurinnya buat cari spot ok. Untungnya memang bisa liat sunset yg lumayan ok. Sebelumnya gw cuman dapet sunset di sungai, yg ketutup ama hutan. Sekarang bener2 tenggelam di laut ^^ Lumayan dapet stok.

Nah stok foto dah menumpuk, tapi ada satu lagi yg bikin hidup GA hidup. GADA PHOTOSHOP DI LAPTOP INI, HUAAAAA!!!!

ps: Foto di posting ini bukan diambil di Brunei, tapi di Samarinda, pas gw mudik lebaran. Thx utk Dedi, Budi, Bobby, Fajar, dan Okky atas hunting yg menyenangkan!